Oleh : Dr. Ir. Indra Dwipa. MS..PANDEMI yang berdampak terhadap semua lini kehidupan membuat kita harus memikirkan upaya yang harus dilakukan agar menjaga ketahanan pangan selama pandemi.
Pemanfaatan sumber daya lokal tanaman Sagu sebagai sumber karbohidrat alternatif Indonesia merupakan negara yang dianugrahi oleh Tuhan Yang Maha Esa akan sumber daya alam yang melimpah ruah khususnya tanaman. Beberapa tanaman lain di Indonesia bisa menjadi sumber karbohidrat alternatif seperti tanaman Sagu.Sagu (Metroxylon sagu) merupakan tanaman yang menempati posisi strategis dalam sejarah pangan bangsa Indonesia terutama bagi penduduk di pesisir pantai dataran rendah. Sagu umumnya tumbuh di daerah tropis dan bergambut. Sagu bisa tumbuh dengan baik di Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Sulawesi serta Papua. Saudara-saudara kita dari timur seperti masyarakat Maluku dan Papua menjadikan sagu menjadi sumber karbohidrat utama mereka. Selain itu, beberapa masyarakat di provinsi lain seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Riau, Aceh dan Sumatera Barat juga menjadikan sagu sebagai bahan makanan pokok mereka. Beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh menjadikan sagu sebagai makanan pokok mereka ketika harga beras mahal dan tidakterjangkau.
Keungulan sagu sebagai sumber karbohidrat alternatif karena dalam 100 gram pati sagu mempunyai kandungan energi 357 kalori sedangkan beras 366 kalori atau jagung 349 kalori serta lebih tinggi dari kentang, 71 kalori. Teknologi pengolahan sagu sudah berkembang bahkan telah menjadi kearifan (budaya) lokal. Banyak makanan-makanan tradisional di Indonesia yang sudah berumur berabad-abad sudah dikonsumsi oleh nenek moyang kita sebelum gandum masuk ke Indonesia terbuat dari bahan baku sagu sepeti laupek, bubur sagu dan banyak jenis kue lainnya dan yang paling terkenal adalah papeda yang berasal dari Papua.Sagu pun telah menjadi bahan baku industri makanan, misalnya diolah menjadi biscuit, mie dan roti serta kerupuk. Ini merupakan salah satu potensi dan peluang untuk menggantikan gandum yang saat ini merupakan bahan baku utama pembuatan kue dan makanan lain yang kita konsumsi sehari-hari. Peran sagu yang berkembang berabad-abad tersebut bisa dikembangkan agar dimasa depan menjadi salah satu tanaman yang menjadi sumber karbohidrat utama bagi bangsa Indonesia.
Sagu memiliki keunggulan dibandingkan padi untuk memberi makan dunia. Sagu mengandung karbohidrat tinggi dengan kandungan pati kering 200-400 kg/ pohon dan jika dilakukan pemanenan dalam 1 ha akan menghasilkan 20-40 ton pati/ha/tahun. Dan jika dijumlahkkan dengan luas areal sagu sebesar 5 juta Ha akan menghasilkan 100-200 juta ton. Padi membutuhkan 12 juta hektar untuk menghasilkan 30 juta ton, sedangkan sagu menghasilkan 30 juta ton pati hanya dalam 1 juta ha. Kebun sagu dengan luasan 1 juta hektar memberi makan 200 juta jiwa, jika dalam 5 juta hektar sagu dapat memberi makan 1 milyar jiwa. FAO melaporkan bahwa 868 juta jiwa di dunia mengalami kelaparan dan sagu dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan di dunia.Indonesia merupakan negara yang memiliki 85% sagu di dunia terutama di pulau Papua dan ini menjadi peluang yang besar dalam memasarkan sagu sebagai salah satu sumber pangan yang menjanjikan. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi yang juga memiliki banyak tanaman sagu yang belum banyak dimanfaatkan.
Banyak makanan khas Sumbar yang bahan bakunya terbuat dari sagu seperti lompong sagu dan banyak kue lainnya. Di salah satu Kabupaten di Sumatera Barat, Kabupaten Mentawai, sagu merupakan makanan pokok mereka dan sudah menjadi kearifan lokal bagi daerah tersebut. Selain dari Kabupaten Mentawai, banyak daerah lain di Sumbar yang potensi sagunya juga besar seperti Kabupaten Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pasaman dan Pasaman Barat. Dengan potensi pengembangan sagu dan produk turunanya di Sumbar sangat besar.Untuk itu, kedepannya, perlu perhatian lebih dari pemerintah daerah Sumbar untuk memanfaatkan sagu sebagai salah satu sumber pangan bagi masyarakat Sumbar untuk menggantikan sumber pangan utama terlebih lagi gandum yang keseluruhannya kita pasok dari luar. Tidak hanya sebagai penghasil bahan mental, diharapkan pengolahan sagu di Sumbar dimulai dari hulu sampai hilir sehingga selain digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras dan gandum, sagu juga bisa kita ekspor dalam bentuk setengah jadi atau produk jadi sehingga bisa meningkatkan UMKM yang ada di Sumbar.
URBAN FARMINGPada tahun 2020, penduduk dunia berjumlah 7,8 millar jiwa. Kemajuan daerah perkotaan seperti kebutuhan pekerjaan, fasilitas pendidikan dan fasilitas lainnya yang tidak ditemukan di desa menyebabkan banyaknya penduduk dunia bermigrasi dan menetap di perkotaan ssehingga hampir dari sebagian penduduk dunia saat ini tinggal di perkotaan. Salah satu permasalahan di perkotaan penduduk perkotaan mengandalkan kebutuhan pangan dari desa.Ketergantungan masyarakat perkotaan ini tentu akan menjadi sebuah bom waktu jika terjadi suatu bencana alam atau faktor lainnya sehingga pasokan kebutuhan pangan dari desa ke kota tersendat. Salah satu contoh bencana yang menyebabkan masyarakat perkotaan harus mengandalkan diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka sendiri akan pangan adalah pendemi covid-19.Faktor lain yang menjadi kendala jika ingin memenuhi kebutuhan akan pangan di daerah perkotaan adalah luas lahan hijau yang semakin sempit. Berkurangnya lahan hijau untuk pertanian di perkotaan menyebabkan pemanfaatan ruang-ruang sempit yang ada di perkotaan tersebut. Praktek budidaya untuk memanfaatkan ruang-ruangan sempit terutama di perkotaan untuk kegiatan pertanian disebut dengan Urban Farming.
Urban farming memiliki istilah lain yaitu pertanian terintegrasi pada lahan terbatas. Keterbatasan di perkotaan tidak menjadi suatu kendala, malahan menjadi suatu inovasi untuk mengahasilkan sesuatu yang berharga. Dalam menghadapi pandemi covid-19 ini khsusnya di kota-kota di Sumatera Barat seperti Padang, Bukit Tinggi dan Payakumbuh dan daerah padat penduduk lainnya, pandemi covid-19 yang menyebabkan diberlakukannya PSBB, mengharuskan masyarakat untuk berdiam diri dari rumah. Selain itu, PSBB yang menyebabkan penurunan daya beli masyarakat menyebabkan masyarakat setidaknya mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri dari rumah.Beberapa teknik budidaya yang dikelompokkan dalam Urban Farming yaitu :
HidroponikAquaponik
VertikulturWallGardening
Editor : Adrian Tuswandi, SH