Upaya Sumbar Menjaga Ketahanan Pangan di Masa Pandemi : Kunci Ketahanan Pangan Sumbar (habis)

Dekan Fakultas Pertanian Indra Dwipa MS (foto: dok)
Dekan Fakultas Pertanian Indra Dwipa MS (foto: dok)

 Hidroponik

Hidroponik merupakan teknik budidaya dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan hara nutrisi bagi tanaman.Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas. Teknik budidaya ini dilakukans ecara vertikal dan dan sangat sesuai dengan budidaya sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, selada dan sayuran lainnya.Selain itu, sudah ada juga teknik budidaya padi secara hidroponik sehingga metode bercocok tanam hidrponik tidak hanya terpaku pada tanaman sayuran, naum juga berkembang pada tanaman pangan.

AquaponikTeknik ini merupakan sistem produksi pangan, khususnya sayuran yang diintegrasikan dengan budidaya hewan air (Ikan, udang, siput) di dalam suatu lingkungan yang saling bersimbiosis.

VertikulturTeknik budidaya ini juga dilakukan secara vertikal. Teknik ini sangat sesuai untuk sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, selada dan sayuran daun lainnya.

WallGardeningBudidaya tanaman ini juga dilakukan secara vertical dengan memanfaatkan dinding sebagai tempat menempatkan modul tanaman. Teknik budidaya ini banyak dilakukan di perkantoran. Selain untuk menjadikan sebagai sumber oksigen, juga bermanfaat sebagai taman gantung yangestetik.

FOOD ESTATEUntuk mencapai ketahanan pangan nasional, pemerintah mencanangkan beberapa daerah di Indonesia sebagai Food estate atau lumbung pangan. Food estate secara harfiah berarti perusahaan pangan. Di Indonesia, dikarenakan pangan utama yang tersedia cukup luas adalah padi sehingga food estate fokus ke tanaman padi.

Food estate merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan bahkan peternakan di suatu kawasan. Pemerintahmerencanakan food estate akan menjadi salah satu program strategis nasional (PSN) tahun 2020-2024. Lahan-lahan yang digunakan untuk program food estate adalah eks proyek lahan gambut. Indonesia memiliki 13,43 juta hektar lahan gambut yang tersebar dari sabang hingga Merauke. Dengan lahan gambut seluas ini, Indonesia berpotensi bisa swasembada pangan dan tidak mengimpor beras lagi dari negara lain jika program ini berhasil.

Namun, untuk memujudkan mimpi tersbut, perlu kehatian dan pertimbangan yang matang sebelum pelaksaan program ini. Studi tentang kelayakan lahan gambut sebagai lahan food estate perlu dilakukan secara mendalam terutama lahan gambut yang rapuh dan heterogen. Selain itu, lahan gambut yang digunakan adalah lahan bekas PLG (Proyek Lahan Gambut). Lahan bekas PLG merupakan lahan sub-optimal artinya lahan yang telah mengalami degradasi yang mempunyai kesuburan yang rendah dan tidak mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Apalagi tanaman padi yang belum terbiasa beradaptasi pada lahan gambut. Untuk itu, perlunta varietas-varietas padi yang mampu tumbuh dan berporduksi dengan baik di lahan gambut.Di Sumatera Barat, penerapan food estate hampir bisa dilakukan di seluruh dataran yang bisa ditanaman tanaman pangan di Sumatera Barat. Filosofi food estate yang berarti “lumbung pangan” mengharuskan suatu daerah bisa menjadi lumbung pangan dan menjadi swasembada pangan.

Banyak cara yang dilakukan untuk menjadikan Sumbar sebagai food estate seperti penggunaan teknolog-teknologi untuk peningkatan produksi tanaman pangan di Sumatera Barat. Untuk tanaman padi, Pemerintah Sumbar sudah lama menerapkan System of Rice Intensification atau istilah lokal Sumbar “Padi Tanam Sabatang”. Metode ini terbukti menghasilkan 8-12 ton gabah kering dibandingkan metode konvensional yang menghasilkan 4-6 ton per hektar.Selain itu, metode jajar legowo (jarwo) juga bisa meningkatkan hasil gabah kering di Sumatera Barat. Selain untuk tanaman padi, metode jarwo juga bisa diimplementasikan ke tanaman jagung. Selain itu, metode Ratoon atau bahasa lokal Sumbar “Salibu” juga terbukti efektif meningkatkan produksi padi di beberapa daerah percontohan di Sumatera Barat. Untuk mendukung Sumbar sebagai food estate, teknologi-teknologi diatas bisa digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Selama ini permasalahan yang dihadapi dalam penerapan teknologi ini secara massal adalah petani belum menerapkan teknologi-teknologi tersebut di sawah mereka. Untuk mencapai tujuan Sumbar sebagai food estate, pemerintah perlu gencar memberdayakan penyuluh di lapangan agar mengajak petani untuk menerapkan teknologi-teknologi tersebut dalam budidaya tanaman padi dan jagung mereka.

Kawasan Mandiri BenihBenih merupakan salah satu unsur utama untuk mendapatkan tanaman yang unggul. Semakin unggul suatu benih, maka produksi tanaman tersebut juga baik. Peranan benih yang strategis dalam pertanian membuat pemerintah harus memperhatikan ketersediaan benih tesebut.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini