Oleh: Muhammad Nazri Janra & Nurainas
(Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas)
“APALAH arti sebuah nama?” Begitu ucapan terkenal dari Juliet terhadap kekasihnya Romeo di dalam roman terkenal dengan judul yang sama dengan kedua tokoh utamanya. Juliet mengambil perbandingan setangkai bunga mawar.
Jika bunga tersebut diberi nama lain selain mawar atau bahkan tidak bernama sama sekali, harumnya tidak akan berkurang bahkan sama persis. Seakan menegaskan bahwa nama tidak ada sangkut pautnya dengan sifat dan ciri khas bunga mawar yang dimaksud. Entah kenapa ucapan melankolis tersebut kemudian lebih terkenal dari kisah Romeo-Juliet, sebuah kisah tragedi yang ditulis oleh Shakespeare, seorang pujangga Inggris abad pertengahan.
Dari kisah tersebut, ungkapan itu sendiri kemudian merebak terbawa ke dalam banyak konteks percakapan sehari-hari. Dalam banyak kesempatan, terdapat berbagai pembahasan tentang pentingnya arti nama terhadap suatu entitas. Semisal terkait penamaan seseorang, suatu tempat atau hal lainnya.
Pembahasan tersebut, walau terkesan bertentangan dengan ungkapan Shakespeare di atas, sebagiannya memang terpicu oleh makna dan tipikalitas dari ungkapan itu sendiri. Termasuk di dalam hal yang akan dibahas di dalam tulisan ini, yaitu bidang pariwisata tematik seperti wisata edukasi dan ekowisata yang beririsan dengan bidang biologi atau ekologi.
Wisata edukasi dan ekowisata sebenarnya bukan konsep yang baru, karena telah mulai dikenal hampir lebih dari setengah abad yang lalu. Konsep ini diciptakan oleh orang-orang yang ingin menikmati keindahan alam, tetapi sembari tetap melakukan sesuatu yang bermanfaat selain mendapatkan rileksasi dari aktifitas kehidupan sehari-hari.
Wisata edukasi mengajak penikmatnya untuk mendapatkan pengetahuan baru mengenai alam, kebudayaan atau aspek kemasyarakat di suatu tempat dengan melihat dan mempelajarinya secara langsung di lokasi aslinya. Sedangkan ekowisata lebih menekankan kepada aspek pelestarian alam di lokasi wisata, terutama dengan mengajak para wisatawan untuk meminimalkan dampak lingkungan mereka saat berwisata dan sekaligus juga mengajak masyarakat lokal terlibat di dalam skema kepariwisataan sambil melindungi lingkungan sekitar.
Dengan mencermati definisi kedua konsep wisata di atas, maka tidak berlebihan jika ‘nama’ atau ‘penamaan’ terhadap suatu entitas alam yang terlibat menjadi sesuatu yang penting di dalamnya. Seringkali wisata edukasi dan ekowisata menjadikan hewan, tumbuhan atau organisme lainnya sebagai daya tarik utama di lokasi wisata tersebut. Sehingga, mengenalkan beragam jenis tumbuhan dan hewan kepada wisatawan yang datang ke suatu lokasi wisata alam menjadi kunci penting yang akan menentukan ketertarikan wisatawan yang dating.
Tentunya, hal ini memerlukan konsep penamaan yang spesifik untuk jenis-jenis organisme yang diandalkan tersebut. Menggunakan nama lokal merupakan salah satu alternatif, tetapi yang paling sahih dan utama tentunya adalah dengan menggunakan nama ilmiah yang sifatnya lebih universal.
Editor : Adrian Tuswandi, SH