Pentingnya Nama Ilmiah dalam Wisata Edukasi dan Ekowisata

(foto: dok)
(foto: dok)

Yang dimaksud dengan nama ilmiah (scientific name) adalah suatu sistem penamaan terhadap beragam jenis makhluk hidup dengan menggunakan dua atau tiga kata dari Bahasa Latin atau yang dilatinkan. Sistem penamaan ini dimulai oleh Carolus Linnaeus, bapak Taksonomi dunia, sejak tiga abad yang lalu dengan tujuan untuk menjembatani perbedaan penamaan jenis-jenis hewan, tumbuhan dan makhluk hidup lain yang diakibatkan oleh perbedaan bahasa yang digunakan oleh penutur di masing-masing tempat di muka bumi.

Sehingga, dengan menggunakan nama ilmiah, setiap orang dimana pun berada dapat merujuk kepada jenis organisme yang sama tanpa terhadang berbedaan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Dengan pemakaian nama yang sama, baik fonem atau pengucapannya, tanpa terpengaruh wilayah geografis ataupun kebudayaan masyarakat setempat, maka kekayaan jenis makhluk hidup di suatu tempat dapat diketahui dengan pasti.

Melazimkan penggunaan nama-nama ilmiah di suatu lokasi wisata edukasi dan ekowisata selain dapat memberikan pelajaran taksonomi sederhana kepada pengunjung, juga dapat memberikan gambaran kekayaan hayati di tempat tersebut. Lebih lanjutnya lagi, pengelola lokasi juga secara berkala dapat melakukan pemantauan kekayaan jenis di kawasannya tersebut dengan menghitung jenis-jenis baru yang mungkin belum tercatat sebelumnya.

Melalui identifikasi jenis dengan menggunakan nama ilmiah, setiap orang dapat mengetahui status dari jenis organisme tersebut; langka, tersebar luas, bersifat endemik, bersifat parasite, invasif dan lain sebagainya. Saat ini, telah banyak database online ataupun cetak yang dapat diakses dengan mudah untuk mengetahui informasi kunci tentang suatu organisme, selama diketahui nama ilmiah yang digunakan untuk organisme tersebut.an ini tentunya menjadi modal besar bagi para penggiat wisata edukasi dan ekowisata di Indonesia.

Di Sumatera Barat sendiri telah banyak berdiri situs-situs wisata edukasi dan ekowisata. Beberapa yang dapat disebutkan antara lain Air Terjuan Nyarai di Pariaman, Air Terjun Lembah Anai, Pulau Belibis di Solok, Lembah Harau Payakumbuh, termasuk Green Talao Park Nagari Ulakan yang tidak jauh dari Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman.

Sebagian dari lokasi ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat dengan fasilitas yang seringkali terbatas. Keterbatasan ini juga yang menyebabkan prioritas lebih diutamakan kepada jalan, bangunan atau sarana pendukung utama lainnya.

Fasilitas-fasilitas yang dapat membantu pengunjung untuk melakukan pengenalan kepada jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang ada di lokasi wisata alam, misalnya seperti papan nama, katalog interaktif dan lain sebagainya, menjadi terbatas atau tidak diprioritaskan.

Belum lagi ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang identifikasi jenis beserta sistem penulisan nama ilmiah yang bersifat informatif, membuat perhatian terhadap masalah nama-nama ilmiah ini makin terabaikan.

Memperhatikan geliat usaha di kawasan wisata edukasi dan ekowisata yang ada di Sumatera Barat, sebenarnya masih tetap dapat memberikan peluang pemasukan ekonomi walaupun secara global dunia masih terkungkung oleh pandemi Covid-19.

Wisatawan mancanegara memang masih dalam keadaan ‘dorman’ akibat larangan traveling lintas negara yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran wabah lebih lanjut. Tetapi secara lokal, wisatawan domestik yang haus akan hiburan di alam dapat menjadi sasaran dari beragam paket wisata yang disediakan, termasuk informasi-informasi berguna tentang kekayaan jenis hewan, tumbuhan dan lainnya yang ada di lokasi wisata.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini