Kebun Sayur Apung Cegah Mati Massal Ikan Danau Maninjau

102

 

Oleh :                                                                Tim Rehabilitasi Danau Maninjau Univ. bung hatta. Ketua, Dr. Firdaus, ST., MT

KEMBALI Kematian ikan massal di Danau Maninjau Agam Sumatera Barat, jutaan ikan keramba rakyat mati, itu bukan karena belerang atau tubo, ayo baca akar masalah dan solusinya disampaikan Dosen UBH Padang.

Kita patut berbangga bahwa Keramba Jaring Apung (KJA) yang telah mensejahterakan puluhan ribu KK di salingka danau Maninjau adalah karya dari kawan-kawan FPIK Univ Bung Hatta dan alumni.

Kasus kematian berton-ton ikan di KJA Danau Maninjau akhir-akhir ini akibat masalah sedimen tidaklah sepantasnya menjadi alasan untuk menyalahkan apa yg telah dibangun selama ini.

Upaya menghentikan kegiatan KJA di danau dan menarik kegiatan ekonomi kembali ke darat secara tidak langsung menyalahkan kegiatan KJA di Danau Maninjau. FPIK Univ Bung Hatta secara otomatis menanggung beban moral.

Masalah sedimen sebenarnya hanya dampak yang luput dari perhatian dan belum diantisipasi. Pengembangan KJA sudah benar karena memandang Danau Maninjau dalam perspektif sistem produksi.

Menghentikan kegiatan KJA tentu saja merupakan suatu langkah mundur dan tidak boleh terjadi. Apa yang musti kita lakukan adalah merumuskan solusi atas masalah sedimen yg mengancam kelangsungan usaha KJA.

Dengan memahami akar masalah yg ditimbulkan akibat sedimen, maka solusinya menjadi sangat mungkin dan sederhana. Bukannya menghabiskan biaya yang sangat besar, solusinya malah menggerakkan roda perekonomian baru bagi masyarakat salingka Danau Maninjau.

Solusi yang penulis maksud adalah mengajak masyarakat untuk mengembangkan kebun sayur apung mengapit barisan KJA yg telah ada.

Keberadaan kebun sayur apung bukan hanya meningkatkan penghasilan masyarakat, tapi juga mengatasi masalah kematian ikan secara massal akibat naiknya sedimen ke permukaan oleh peristiwa up welling/rollover.

Keberadaan kebun sayur apung menghalangi panas masuk dan memanasi sedimen di dasar danau. Sedimen yg lebih panas berpotensi naik ke permukaan akibat densitas yg lebih rendah daripada densitas air di bagian atas.

Selain itu, proses penguraian yg menghasilkan gas juga menjadi lebih tinggi sehingga mendorong sedimen naik ke permukaan.

Beda temperatur dan tekanan menjadi lebih besar ketika ada angin kencang/ badai berhembus di permukaan danau. Hal ini yg menyebabkan peristiwa up welling/rollover.

Ketika up welling terjadi, permukaan danau di sekitar KJA dipenuhi sedimen yg mengambang dan mengusir gas oksigen. Akibatnya, ikan mati karena kehilangan oksigen.

Kembali ke kebun sayur apung, wadah untuk kebun sayur apung bisa dibuat dari anyaman bambu. Sedangkan media tanaman berupa lumpur yg berasal dari sedot sedimen. Kebutuhan bambu menggerakkan masyarakat sekitar untuk membudidayakan tanaman bambu.

Permintaan anyaman bambu dalam jumlah yang demikian besar memicu lahirnya indistri kreatif. Keberadaan rumpun-rumpun bambu juga berperan sebagai pemecah angin untuk mencegah peristiwa up welling/rollover.

Jadi keberadaan kebun sayur apung dan rumpun bambu adalah jawaban atas masalah yang muncul akibat sedimen di KJA Danau Maninjau. Dengan demikian, solusi atas masalah sedimen tidaklah rumit, justru menjadi berkah yang bisa lebih menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Selain kebun sayur apung, benda-benda merapung di sekeliling keramba juga mencegah peristiwa rollover, seperti rakit, boat, perahu, saung, serta berbagai fasilitas wisata danau lainnya yang merapung di muka danau. Semua berperan memecah arus badai.

Semoga menjadi perhatian oleh semua pihak berkepentingan. Wassalam (analisa)

BAGIKAN