Abu Janda, Mulutmu Itu

Foto Two Efly

Tidak ada gunanya menyumpah dan mencaci. Tidak ada gunanya membalas dengan kata yang lebih keras dan lebih kasar. Penghinaan tidak harus dibayar dengan penghinaan. Ketika itu yang dilakukan, sesungguhnya kita sedang turun ke level yang sama dengan orang yang kita kritik.

Karena itu, respons yang tepat bukan gaduh tanpa arah, melainkan langkah yang terukur.

Masyarakat tentu berharap lembaga yang selama ini dipandang mewakili suara umat dan adat ikut bersikap. MUI dan LKAAM diharapkan tidak hanya hadir saat seremonial, tetapi juga ketika ada kegelisahan yang dirasakan masyarakat.

Ini bukan semata soal siapa yang berbicara dan siapa yang tersinggung. Ini soal menjaga ruang publik agar tetap sehat. Ketika ada pernyataan yang dinilai melukai keyakinan atau identitas budaya, maka ruang klarifikasi, dialog, dan mekanisme hukum harus berjalan.

Dimana MUI Sumbar dan LKAAM

Bukan kali ini saja Abu Janda menuai kontroversi. Di berbagai kesempatan, baik melalui forum diskusi maupun media sosial, pernyataannya kerap memantik polemik dan menyinggung kelompok tertentu. Karena itu, wajar jika publik bertanya: apakah memang tidak ada batas yang harus dijaga dalam berbicara?

Sebagai warga negara, saya pribadi juga heran melihat bagaimana seseorang bisa begitu bebas melontarkan pernyataan yang berpotensi memecah belah, seolah tidak ada konsekuensi sosial yang mengikutinya.

Padahal hidup bermasyarakat bukan hanya diatur oleh hukum negara. Ada hukum sosial. Ada etika. Ada norma. Ada rasa hormat kepada sesama.

Sebagai anak Minang, saya berharap siapa pun yang memiliki otoritas moral maupun kelembagaan untuk bersuara dapat menunjukkan sikap. Jika MUI merasa mewakili aspirasi umat, maka dengarkan suara umat yang merasa tersinggung. Jika LKAAM menjadi penjaga marwah adat Minangkabau, maka hadirkan sikap yang bijak dan terukur.

Ikatan Keluarga Minang (IKM) di berbagai daerah telah menyampaikan responsnya. Tetapi jangan biarkan organisasi di rantau berjalan sendiri. Ranah dan rantau tidak terpisahkan.

Orang Minang punya ungkapan: ranah jo rantau ibarat kuku jo daging. Saling terhubung dan saling merasakan. Sakit di rantau, terasa juga di kampung. Luka di kampung, menggema sampai ke perantauan.

Banner InfografisBanner JPS - BolaBanner - Gor
Bagikan

Opini lainnya
Terkini