Bayangkan suatu sore seorang teman datang menemui saya. “Da, gimana kabar lu? Gue punya sepuluh toko kain di Tanah Abang. Gue mau buka lima lagi. Mau ikut patungan? Menurut hitungan gue, kalau pembagian untungnya sesuai rencana, lima tahun modal lu bisa balik.” Saya tertarik, tetapi belum langsung mengiyakan. “Lima tahun? Menarik. Tapi boleh lihat dulu catatan tokonya? Penjualannya berapa, untungnya berapa, dan utangnya berapa? Gue juga pengin tahu keadaan toko lain yang sejenis.”
“Lu hati-hati banget, ya,” katanya. Saya tersenyum. “Namanya juga mau jadi pemilik. Kita perlu belajar dari orang yang pernah patungan. Setelah itu, baru bicara harga dan bagian kepemilikan. Kalau ada yang bisa dibenahi, kita pikirkan bersama. Uang tambahannya dipakai untuk apa, hasilnya dibagi bagaimana, dan kalau penjualan meleset, apa yang kita lakukan?” Bagi saya, berkembangnya toko itu juga akan lebih berarti jika pegawai, pemasok, dan pelanggan ikut merasakan manfaatnya.
Obrolan tersebut membantu kita membaca wacana IPO PT Pelabuhan Indonesia (Persero), atau Pelindo. Pada 5 Agustus 2026, COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyebut Pelindo sebagai salah satu BUMN potensial IPO. Pada 7 Oktober 2026, CEO Danantara Rosan Roeslani membicarakan persiapan IPO sejumlah BUMN untuk 2027 tanpa menyebut Pelindo secara khusus. Kedua pernyataan itu belum memastikan struktur maupun jadwal IPO Pelindo. Seperti ajakan teman tadi, peluangnya menarik, tetapi rincian usahanya tetap perlu diperiksa.
Pertanyaan tentang catatan toko mengantar kita membaca keuangan Pelindo. Pengalaman orang yang pernah patungan membawa kita pada pelajaran Garuda dan BUMN Karya. Soal harga mengantar pada valuasi, sementara pembenahan toko menggambarkan upaya meningkatkan nilai usaha. Selanjutnya, kita menelusuri penggunaan dana dan pembagian hasil. Perhatian kepada pegawai, pemasok, dan pelanggan membawa kita pada pertanyaan terakhir: apa manfaat IPO Pelindo bagi masyarakat?
Sebelum Patungan, Baca Kondisi Pelindo
Sebelum membiayai lima toko tambahan, tentu kita ingin mengetahui keadaan lima toko yang sudah berjalan. Pertanyaan yang sama berlaku untuk Pelindo. Laporan keuangan konsolidasian auditan 2025 mencatat pendapatan Rp36,73 triliun, laba operasi atau EBIT Rp7,46 triliun, dan laba bersih konsolidasian Rp4,36 triliun. Dengan menambahkan kembali penyusutan dan amortisasi pada EBIT, diperoleh EBITDA hasil rekonstruksi Rp11,18 triliun.
Dalam gambaran toko kain, pendapatan adalah omzet penjualan. EBITDA menunjukkan hasil usaha sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi. Setelah penyusutan serta amortisasi diperhitungkan, diperoleh EBIT. Penghasilan dan beban lainnya, termasuk bunga serta pajak, kemudian membentuk laba bersih. Jadi, ramainya pembeli perlu diikuti pertanyaan: berapa keuntungan yang akhirnya tersisa?
Untuk melihat posisinya, kami menggunakan data S&P Capital IQ atas delapan perusahaan pelabuhan tercatat di bursa: Liaoning Port, Guangzhou Port, Tianjin Port Development, Beibu Gulf Port, International Container Terminal Services atau ICTSI, Qinhuangdao Port, COSCO SHIPPING Ports, dan China Merchants Port Holdings. Pembanding ini digunakan untuk membaca kinerja sekaligus memperoleh kelipatan valuasi melalui metode GPTC dalam pendekatan pasar, dengan mengacu pada POJK 35/POJK.04/2020 dan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilai Indonesia. Seperti melihat toko sejenis, kita ingin mengetahui seberapa baik usahanya berjalan dan berapa nilai kepemilikan yang masuk akal.Untuk membandingkan kinerja, kami menggunakan median, yaitu nilai tengah dari delapan perusahaan pembanding. Kita mulai dari margin EBITDA. Dari setiap Rp100 penjualan, Pelindo menghasilkan EBITDA sekitar Rp30,44, sedangkan pada tingkat median pembanding sekitar Rp40,52. Ibarat dua toko dengan omzet yang sama, hasil usaha Pelindo sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi lebih kecil. Selisih ini menjadi alasan untuk menelusuri biaya dan cara menjalankan usahanya.
Gambaran serupa terlihat pada margin laba bersih atau EAT. Dari setiap Rp100 penjualan, Pelindo menyisakan laba sekitar Rp11,88, dibandingkan Rp19,41 pada tolok ukur pembanding. Jadi, toko yang ramai belum tentu menyisakan keuntungan sebesar toko lain dengan penjualan yang sama. Kita perlu mengetahui pengeluaran apa saja yang mengurangi keuntungan tersebut dan bagian mana yang masih bisa diperbaiki.
Selain keuntungan, besarnya pinjaman juga perlu diperhatikan. Utang berbunga Pelindo, termasuk sewa, mencapai Rp47,73 triliun, dengan ekuitas konsolidasian Rp50,36 triliun. Jika dibandingkan melalui rasio utang terhadap ekuitas atau DER, setiap Rp100 modal sendiri berpadanan dengan sekitar Rp95 utang berbunga. Pada tingkat median pembanding, utangnya sekitar Rp42. Seperti toko dengan pinjaman relatif lebih besar, Pelindo perlu lebih cermat menjaga uang yang tersedia untuk membayar kewajibannya.