Danantara dan IPO Pelindo dalam Perumpamaan Patungan Toko Kain (Edisi 2 BUMN)

Foto Rio Eka Putra, MAPPI (Cert.)

Di sisi pemanfaatan aset, gambarannya lebih baik menurut rasio yang digunakan. Setiap Rp100 nilai aset dalam pembukuan Pelindo menghasilkan sekitar Rp29 pendapatan setahun, dibandingkan Rp22 pada tingkat median pembanding. Artinya, penjualan relatif terhadap nilai asetnya lebih besar. Namun, umur dan pencatatan aset tetap berpengaruh. Rak atau peralatan toko yang sudah lama dipakai bisa tercatat dengan nilai rendah, meskipun masih membantu menghasilkan penjualan.

Terakhir, kita perlu melihat uang yang dihasilkan dari kegiatan usaha. Arus kas operasi Pelindo turun dari Rp12,20 triliun pada 2024 menjadi Rp8,16 triliun pada 2025. Seperti toko kain, laba dalam catatan perlu disertai kas yang cukup untuk membeli persediaan, membayar kewajiban, dan mengganti peralatan. Pembenahan Pelindo perlu memperkuat keuntungan sekaligus kemampuan menghasilkan kas, dengan tetap memperhitungkan perbedaan layanan dan pencatatan perusahaan pembanding.

Pelajaran dari Garuda dan BUMN Karya

Pengalaman Garuda dan BUMN Karya mengingatkan bahwa nama besar perusahaan belum menjamin hasil investasi. Garuda Indonesia, misalnya, menawarkan saham perdana Rp750 dan tercatat pada 11 Februari 2011, sedangkan pada penutupan perdagangan 6 Oktober 2026 harganya Rp51. Saat mengalami kerugian, Garuda juga tidak membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Hasil investasi setiap pemegang saham tetap bergantung pada waktu pembelian, dividen, dan aksi korporasi. Ibarat ikut memiliki toko kain, bagian kepemilikan kita bisa dihargai lebih rendah ketika hendak dijual, sementara pembagian keuntungan yang ditunggu tidak tersedia. Harapan balik modal pun dapat mundur. Bisnis penerbangan dan pelabuhan berbeda, tetapi pelajarannya relevan: kesehatan usaha, kewajaran harga, dan kemampuan membagikan keuntungan perlu diperiksa sebelum kita ikut memiliki.

Berapa Nilai Pelindo yang Layak?

Setelah memahami kondisi dan risikonya, barulah kita membicarakan harga. “Dengan uang yang gue setor, bagian gue berapa?” Pertanyaan sederhana itu membutuhkan valuasi. Toko yang ramai memang menarik, tetapi harga kepemilikannya perlu sebanding dengan kemampuan menghasilkan keuntungan dan risiko yang ditanggung.

Secara umum, valuasi mengenal pendekatan pendapatan, biaya, dan pasar. Dalam penilaian bisnis, pendekatan aset menilai kembali aset serta kewajibannya. Kami memilih pendekatan pasar melalui GPTC karena harga saham dan laporan keuangan pembanding tersedia untuk publik. Seperti menaksir toko teman tadi, informasi usaha sejenis menjadi dasar untuk menyusun perkiraan nilai.

Untuk menerapkan pendekatan pendapatan dalam kajian ini, kami perlu memperoleh dan menguji proyeksi usaha bersama manajemen Pelindo. Pendekatan aset memerlukan pemeriksaan serta verifikasi lebih lanjut atas aset dan kewajibannya. Kegiatan tersebut belum dilakukan karena analisis ini menggunakan data sekunder dari sumber publik. Tujuannya memberikan masukan kepada Danantara dan manajemen Pelindo, sekaligus membantu masyarakat memahami kondisi usaha, dasar valuasi, serta peluang dan risiko sebelum ikut menjadi pemegang saham. Tulisan ini bukan laporan penilaian resmi KJPP atau hasil penugasan profesional Penilai Publik. Seperti membahas ajakan patungan toko kain, kami mengajak pembaca memeriksa catatan usaha dan memahami hitungannya sebelum memutuskan ikut menanamkan uang.

Valuasi ini menggunakan tanggal acuan 31 Desember 2025, dengan normalisasi terhadap EBITDA dan EBIT Pelindo serta perusahaan pembanding. Perhitungannya menggunakan kelipatan MVIC/EBITDA dengan bobot 60 persen dan MVIC/EBIT dengan bobot 40 persen. MVIC dalam model ini merupakan nilai pasar saham ditambah utang berbunga bruto. Kelipatan perusahaan pembanding kemudian diterapkan pada EBITDA dan EBIT Pelindo yang telah dinormalisasi. Utang berbunga dikurangkan dari masing-masing hasil perhitungan. Kedua hasil tersebut digabungkan sesuai bobot untuk memperoleh indikasi nilai ekuitas sebelum diskon. Ibarat menaksir toko kain, kita melihat harga dan kemampuan laba toko sejenis sebagai patokan. Setelah memperoleh taksiran nilai usaha, pinjaman toko dikurangkan untuk mengetahui nilai bagian yang menjadi hak pemilik.

Simulasi menghasilkan indikasi nilai 100 persen ekuitas Rp54,38 triliun, setelah asumsi diskon keterbatasan perdagangan saham tertutup atau DLOM sebesar 40 persen. Dibandingkan nilai buku ekuitas pemilik induk Rp48,89 triliun, PBV-nya sekitar 1,11 kali. Setiap Rp100 kekayaan bersih tercatat milik pemegang saham induk ditaksir sekitar Rp111 dalam model.

Taksiran ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi Danantara dan manajemen Pelindo dalam mempersiapkan IPO. Nilainya dapat berubah mengikuti perkembangan kinerja, kondisi keuangan Pelindo, serta keadaan pasar saat IPO akan dilaksanakan. Karena itu, perhitungannya perlu diperbarui mendekati waktu penawaran agar mencerminkan kondisi perusahaan saat itu. Ibarat toko kain yang sedang bersiap mengajak orang ikut patungan, taksiran nilainya hari ini belum tentu sama dengan nilainya ketika patungan benar-benar dibuka. Penjualan, keuntungan, utang, dan prospek usahanya pada saat itulah yang perlu dilihat kembali.

Memperbaiki Usaha, Meningkatkan Nilai Pelindo

Agar nilai yang ditawarkan nanti ditopang usaha yang lebih kuat, Pelindo perlu memanfaatkan masa persiapan IPO untuk memperbaiki kinerjanya. Langkahnya mencakup menelusuri kesenjangan margin, mengendalikan biaya, dan meningkatkan produktivitas fasilitas. Kinerja perusahaan pembanding dapat menjadi acuan setelah perbedaan usahanya diperhitungkan. Seperti pemilik toko kain yang ingin mengajak orang ikut patungan, ia perlu membenahi stok yang terlalu lama menumpuk dan pelayanan yang lambat agar tokonya lebih menguntungkan tanpa mengurangi mutu.

Banner Relasi Publik
Bagikan

Opini lainnya
Terkini