Menimbang Danantara: Harapan, Risiko, dan Masa Depan Penerimaan Negara

Foto Rio Eka Putra

Namun, ada pula risiko sebaliknya jika Danantara justru mendorong agresivitas investasi tanpa perhitungan matang, yang berpotensi memicu proyek mangkrak dan kerugian bisnis. Bila skenario terburuk terjadi, maka laba BUMN akan tergerus dan setoran dividen ke kas negara turut menurun.

2. Posisi Danantara di Antara “Super Holding” Internasional

Pada skala internasional, sejumlah “super holding” seperti Temasek (Singapura) dan Khazanah Nasional (Malaysia) terbukti efektif dalam memacu kinerja perusahaan negara mereka.

Mengusung model tata kelola modern dan target profit yang jelas, entitas-entitas ini meraih kepercayaan pasar global.

Dengan terbentuknya Danantara, Indonesia berharap meniru dan bahkan melampaui capaian tersebut.

Namun, mengingat BUMN Indonesia jauh lebih besar dan beragam, dibutuhkan strategi serta manajemen risiko yang komprehensif.

Selain mengejar profit, Danantara juga dihadapkan pada tanggung jawab sosial dan kewajiban menjaga stabilitas ekonomi nasional.

3. Fungsi SWF INA: Di Mana Letak Perbedaannya?

Sebelum Danantara, Indonesia telah memiliki Indonesia Investment Authority (INA) sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF).

INA berperan mengelola dana investasi dari pemerintah dan mitra global untuk membiayai proyek-proyek jangka panjang yang strategis—seperti infrastruktur, energi baru terbarukan, dan teknologi.

Sementara itu, Danantara bertugas mengonsolidasikan dan mengoptimalkan kinerja BUMN yang berada di bawah kewenangannya.

Keduanya bisa saling melengkapi: INA menyuplai dana investasi produktif, sedangkan Danantara memastikan BUMN yang menerima dana tersebut dikelola dengan efisien dan profesional.

Banner Ultah Golkar 20
Bagikan

Opini lainnya
Terkini