Danantara: Harapan di Tengah Badai

Foto Rio Eka Putra

Bayangkan Indonesia sebagai rumah besar dengan banyak kamar. Setiap kamar adalah BUMN ada yang bersih dan rapi, ada yang sumpek dan pengap, bahkan ada yang atapnya bocor.

Belum lama ini, kamar paling mewah di rumah tersebut ketahuan ada kasus korupsi, membuat kepercayaan publik menurun drastis.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sedang “goyang” karena berbagai sentimen, sehingga saham-saham pelat merah ikut tertekan dan Rupiah pun lemah saat berhadapan dengan dolar AS.

Pemerintah lantas menghadirkan Danantara, yang diperkenalkan resmi pada 24 Februari 2025 hampir sebulan lalu.

Namanya terdengar megah: Lembaga Pengelola Investasi Kekayaan Negara Daya Nusantara. Ia ibarat orang baru yang ditugaskan untuk menata ulang rumah besar kita.

Dari data terkini, nilai aset BUMN pada 2023 mencapai Rp9.000 triliun lebih dari tiga kali lipat belanja negara tahunan. Walau asetnya segunung dan pelanggannya banyak, untungnya baru sekitar 3 persen.

Keadaannya mirip warung makan yang lokasinya strategis dan selalu ramai, tetapi keuntungannya tidak seberapa karena manajemen stok dan operasionalnya berantakan.

Akhirnya, dividen yang masuk ke kas negara hanya Rp50 triliun, sementara laba yang ditahan mencapai Rp150 triliun.

Dibandingkan pendapatan negara yang tembus Rp2.700 triliun, tentu jumlah itu masih kurang “nendang.”

Kasus korupsi yang menghebohkan di salah satu BUMN besar semakin menyorot rapuhnya tata kelola dan beragam inefisiensi di tubuh BUMN.

Banner JPS- Insanul KamilBanner HUT BUMN - JPSBanner Nindya - JPSBanner kopassus
Bagikan

Opini lainnya
Terkini