Danantara: Harapan di Tengah Badai

Foto Rio Eka Putra

Soal sosok di balik Danantara, ada tiga nama penting: Rosan Roeslani, Pandu Patria Sjahrir, dan Dony Oskaria. Bagi sebagian orang, Dony Oskaria paling menyita perhatian karena ia putra Minangkabau asal Tanah Datar.

Masyarakat Minang punya falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” yang menempatkan kejujuran dan etika sebagai pilar utama.

Dony diharapkan mampu mematahkan tradisi korupsi, memotong birokrasi yang ruwet, dan menyuntikkan efisiensi dalam segala lini BUMN.

Ada pula pepatah Minang “Alam takambang jadi guru,” yang mengajarkan kita belajar dari tiap kejadian, serta “Raso dibao naiak, pareso dibao turun,” yang menekankan kehati-hatian serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan bisnis.

Bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Minang, Dony diharapkan jadi sosok yang menegakkan kredibilitas BUMN di mata seluruh rakyat Indonesia.

Penting diingat, walaupun utang Danantara dipisahkan dari utang negara, BUMN tak bisa sembarangan berutang.

Aturan Business Judgement Rule memang melindungi direksi dari kriminalisasi saat mengambil keputusan bisnis yang masuk akal.

Namun, ini bukan “kartu bebas” untuk korupsi atau kesalahan fatal. DPR, BPK, BPKP, aparat penegak hukum, dan PPATK harus tetap menjalankan fungsi “polisi lalu lintas” agar BUMN tidak melaju ke jalur yang salah.

Kritik terhadap Danantara pun muncul. Banyak yang khawatir lembaga baru ini hanya memindahkan persoalan dari satu ruangan ke ruangan lain.

Sebagian juga cemas Danantara akan “membengkak” dan menyulitkan BUMN dengan birokrasi tambahan.

PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Opini lainnya
Terkini