Oleh: Ilham SahrujiKetua Umum HIKADU/ Mahasiswa UIN SMDD Bukittinggi
BEBERAPA hari yang lalu kerabat saya bertanya melalui Whatsapp kepada saya. Pertanyaannya adalah:“Kenapa sih ayah saya bisa sukses, bisa menempati posisi yang sangat tinggi? Bisa memiliki jabatan yang baik? Padahal dia orang yang kurang berpendidikan”.
“Sebaliknya staf dan bawahannya itu adalah orang-orang yang menaiki jenjang pendidikan yang lebih baik. Kok bisa gitu? Apakah ada mekanisme rendom tertentu?”Pertanyaannya sangat seksi dan sangat unik. Tetapi jawabannya sebenarnya sangat sederhana, yaitu bahwa tidak ada kaitan kualitas antara kesuksesan seseorang dengan jenjang pendidikan yang pernah dia upayakan.
Mungkin kita bisa menemukan cerita-cerita seperti demikian, tetapi dalam faktanya, kita tidak akan pernah menemukan adanya hubungan kesuksesan dengan jenjang pendidikan tertentu.Kita bisa melihat orang-orang paling kaya di seluruh dunia atau bahkan orang paling kaya di Indonesia. Ternyata orang-orang kaya itu bukan orang yang berasal dari jenjang pendidikan tertentu, yang baik itu dalam stratifikasinya, maupun diferensiasinya.
Nah kalau begitu, untuk apa juga sekolah?Ternyata jenjang pendidikan yang tinggi itu tidak menjamin kesuksesan seseorang. Sebenarnya begini, pertanyaan seperti itu bisa diajukan untuk dihadapkan pada dimensi yang lain.
Misalkan faktanya, bahwa ada orang paling berjasa di Indonesia bukanlah orang yang paling dihargai di Indonesia. Orang yang paling bekerja keras bukan orang yang paling menikmati kerja kerasnya. Itu benar kan?Orang yang paling kaya di seluruh dunia Ternyata bukan orang yang paling bahagia di sedunia. Orang yang paling ganteng, orang yang paling cantik ternyata bukan orang yang paling beruntung dalam menemukan jodohnya.Nah kan seperti itu...Jadi, sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang menjadi sukses?
Apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi bahagia?Ada satu ilmu yang sudah kita ketahui, tetapi kita tidak pahami selama ini. Benar bukan?
“Kunci kesuksesan seseorang itu ada pada keputusan yang diambil”.Jadi begini caranya. Kita coba buat simulasi imajinatif.
Ada dua orang pedagang cendol, yang satu pribumi, yang satu Cina. Nah dua orang ini ada di jalan yang sama. Tetapi mereka mengambil keputusan yang berbeda.Orang pribumi itu berprinsip bahwa, kalau ada pelanggan baru yang datang kesini, orang tidak dikenal. Maka mahal kan harganya, karena belum tentu dia bakal datang lagi kesini. Belum tentu dia datang lagi kesini.
Editor : Adrian Tuswandi, SH