Mahal kan saja, mumpung ada kesempatan. Orang baru yang tidak dikenal mungkin dia belum tahu harganya. Naikin saja harganya, lumayan kan...Orang Cina yang satu lagi, dia berprinsip sebaliknya. jikalau ada orang baru datang kesini, dia tidak kenal sama sekali. Maka murahkan harganya. Kenapa karena si Cina berspekulasi seperti demikian? Karena bisa saja di masa depan orang ini akan balik lagi. Maka ini adalah pelanggan potensial di masa depan. Setiap kali dia berhadapan dengan pelanggan baru atau orang yang tidak dikenal harga cendolnya itu malah dimurahkan.
Nah dari sini kita bisa menduga mana yang akhirnya akan sukses dengan jualan cendol-nya tadi. Tentu saja adalah si Cina. Kenapa? Karena dia berspekulasi mengambil kesimpulan mengambil sebuah keputusan, dan keputusan itu benar pada akhirnya pelanggannya menjadi semakin banyak dan semakin banyak.Karena setiap pelanggan baru dia kasih kortingan. Sebaliknya si pribumi itu akan menjual cendol yang sama di tempat yang sama dengan resep yang sama dan nasib yang sama sampai puluhan tahun. Tetapi tidak pernah mendapatkan pelanggan baru.
Setiap dia dapat pelanggan baru pelanggan itu pasti akan pergi menghilang karena harganya dimahalkan.Nah cerdas atau tidak, bukan terkait dengan jenjang pendidikan tertentu. Akan tetapi terkait dengan kesimpulan dan keputusan mana yang dia ambil.
Sekarang mari kita lanjutkan simulasi imajinatif-nya;Si Cina yang tadi itu sudah mendapatkan kekayaan lebih besar karena mengambil keputusan yang benar. Katakanlah sekarang dia sudah mendapatkan uang 10 juta rupiah hasil dari dagang cendolnya tadi.
Maka Tuhan akan memberikan pilihan erikutnya atau soal berikutnya. Si Cina ini ditanya; “Cina kamu sekarang sudah punya uang 10 juta apakah kamu akan menggunakan uang itu untuk membuat gerobak baru kemudian menyuruh orang lain mempekerjakan orang lain untuk dagang cendol di tempat yang lain? Atau kamu harus berkembang dengan menyewa sebuah ruangan di pinggir jalan?”Di antara dua jawaban itu, ada yang akan mengantarkannya ke tempat yang lebih sukses lagi. Ada yang tidak, malah membuat stack atau malah berhenti.Nah jadi siapakah orang yang sukses itu?Adalah orang yang paling sering dan paling banyak dalam mengambil keputusan yang benar setiap kali ada pilihan. Kurang lebihnya begitu ya....
Apakah kita masih menyalahkan takdir?Semoga simulasinya bisa dipahami, terimakasih sudah membaca... (analisa)
Editor : Adrian Tuswandi, SH