Kejadian ini membuat perdana menteri yang sedang menjabat saat itu, Mahatir Mohammad harus mengundurkan diri akibat manuver politik anggota Koalisi Pakatan Harapan yakni Partai Pribumi Bersatu Malaysia dan Partai Keadilan Rakyat yang keluar dari koalisi. Setelahnya, terjadi 3 kali pergantian kepemimpinan hanya dalam 4 tahun saja. Dimulai dari Mahatir Mohammad 2018-2020, kemudian Muhyiddin Yassin 2020-2021 dan Ismail Sabri Yaakob 2021-2022.Akhir Pemilu
Situasi politik semakin memanas memasuki masa Pilihan Raya Umum, dimana ketiga orang tadi saling bertarung memperebutkan kursi perdana menteri. Hingga pada akhirnya di hari Kamis tanggal 24 November 2022, Raja Malaysia Abdullah dari Pahang memutuskan untuk mengangkat Anwar Ibrahim dari Koalisi Pakatan Harapan sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-10.Pelantikan Anwar sebagai perdana menteri mengakhiri lima hari krisis pasca pemilu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, penunjukan beliau juga dapat menyebabkan ketidakstabilan pemerintahan akibat faktor internal dan eksternal. Sebelum menjabat sebagai perdana menteri, beliau merupakan tokoh oposisi dan pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri di masa Mahatir Mohammad.
Tetapi, tahun 1998 Mahatir memecat Anwar karena berselisih pendapat terkait penangan krisis ekonomi global yang terjadi di Malaysia. Selain memecat, Mahatir juga menjebloskan Anwar kedalam tahanan dengan tuduhan kasus sodomi dan korupsi di tahun 1999.Hal ini secara tidak langsung berdampak kepada rekam jejak beliau yang tercoreng karena pernah masuk penjara. Selain faktor internal tersebut, ada juga faktor eksternal di parlemen karena adanya persaingan pengaruh dengan Muhyiddin Yassin yang dapat mengganggu jalannya pemerintahan Anwar Ibrahim.
Perjalanan pemerintahan Anwar Ibrahim baru dimulai. Kedepannya tidak ada yang tahu apakah pemerintahannya dapat bertahan lama hingga akhir periode, atau justru bubar di tengah jalan seperti pemerintahan sebelumnya.Namun, kita tentu berharap situasi politik yang mulai kondusif di Malaysia dapat bertahan lama. Sehingga tidak terjadi lagi krisis politik selanjutnya yang akan berdampak kepada masyarakat Malaysia itu sendiri.(analisa)
Editor : Adrian Tuswandi, SH