Oleh: Diana Fadhilah dan Miftahul Zovia Mahasiswa Pascasarjana Biologi Universitas AndalasPembimbing: Dr. Mildawati
MYCTERIA CINEREAadalah salah satu jenis unggas atau burung air besar dengan tinggi sekitar 1 meter (91 – 95 cm). Tubuh burung ini ditutupi dengan bulu putih, kecuali bagian ekor, umumnya berwarna hitam sehingga Mycteria cinerea biasa disebut Milk Stork, sedangkan dalam bahasa Indonesia kerap disebut Bangau Bluwok.Seperti hewan pada umumnya, bangau bluwok memiliki habitat yang unik, antara lain hutan mangrove pesisir, rawa-rawa, persawahan, dan dataran pasang surut seperti tambak atau sebagian daerah lahan basah sebagai habitat khas satwa ini.
Secara global, Mycteria cinerea tersebar di Thailand, Kamboja, Vietnam selatan, Malaysia dan Indonesia, dengan perkiraan total populasi 6000 individu. Mayoritas individu satwa ini (sekitar 5900 individu) tinggal di kepulauan Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, dan Sumbawa. Terdapat juga informasi tentang tempat perkembangbiakan bangau bluwok di Pulau Sumatera, khususnya di daerah Tanjung Koyan, Tanjung Selokan dan Tanjung Banyuasin di Sumatera Selatan.Pada 2016, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan Mycteria cinerea ini ke dalam kategori Red List yakni sebagai Critical Endangered (EN) atau terancam punah secara global.
Berdasarkan data dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), Mycteria cinerea termasuk dalam kategori satwa Appendix I. Pemerintah Indonesia juga melindungi spesies ini melalui Keputusan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Perlindungan Jenis Tumbuhan dan Satwa.Hasil penelitian Verhought pada tahun (1987) menyatakan bahwa habitat spesies ini mengalami penurunan drastis. Hal ini dapat disebabkan salah satunya oleh tekanan populasi dan peralihan fungsi habitat hewan ini menjadi lahan industri untuk memenuhi kebutuhan komersil.
Populasi bangau bluwok telah menurun secara signifikan baik secara global maupun nasional. Hanya tersisa puluhan individu bangau bluwok di Malaysia dan Kamboja. Penurunan ini dikatakan drastis mengingat data tahun 1990-an populasi bangau ini ada sekitar 5.000 di dunia, dan 70% individunya ada di Indonesia.Bentuk habitat khas bangau bluwok ini adalah seluruh daerah lahan basah, salah satunya ialah daerah rawa. Daerah rawa yang memiliki karakteristik relatif basah dan berlumpur, menjadi tempat pencarian makanan utama bangau bluwok, yakni berbagai macam jenis ikan yang terdapat rawa.
Selain itu, daerah rawa juga mendukung bangau bluwok untuk berkembang biak, membuat sarang, berlindung dan beristirahat karena daerah ini memiliki vegetasi semak dan pohon gelam yang tumbuh di sekitar daerah rawa.Dalam penelitian Iqbal dkk (2012), jumlah rata-rata selama 1984–1986 adalah 1.040 individu, dan terlihat kontras dengan jumlah maksimum individu bangau bluwok pada survei sekitar 322 individu, terlihat terjadi penurunan sekitar 70% dalam 22 tahun di Pantai Timur Sumatera Selatan.Penurunan angka populasi bangau bluwok disebabkan oleh penyusutan luas lahan basah yang tak lepas dari buruknya kualitas lingkungan di sepanjang daerah pesisir yang menjadi habitat bangau bluwok. Hal ini dikarenakan destruksi habitat berupa alih fungsi lahan menjadi kawasan industri demi kepentingan komersial.Keadaan ini juga menyebabkan penurunan sumber pakan satwa ini berupa ikan khususnya ikan belanak yang dapat juga disebabkan karena penyusutan lahan dan polusi air. Selain itu, perburuan yang tinggi untuk dijadikan koleksi dan olahan makanan juga menjadi salah satu alasan penurunan populasi satwa ini secara drastis.
Selain fragmentasi dan hilangnya habitat, hibridisasi juga menjadi ancaman terhadap spesies yang menuju kepunahan (Baveja et al., 2019). Hibridisasi atau persilangan merupakan perkawinan yang terjadi antarindividu atau antarpopulasi yang berbeda secara genetik yang bertujuan untuk menghasilkan gabungan sifat atau rekombinasi gen dari kedua individu pada keturunannya. Adanya hibridisasi atau aliran gen inter-specific, komposisi genetik pada populasi yang terancam dapat terpengaruh oleh infiltrasi alel asing ke gene pool asli.Semakin maraknya aktivitas antropogenik yang terjadi, maka semakin banyak juga terjadi hibridisasi yang dimediasi oleh manusia. Bangau bluwok (M. cinerea) adalah salah satu spesies yang komposisi genomnya terancam oleh hibridisasi yang dimediasi oleh manusia.
Hibridisasi tersebut terjadi antara bangau bluwok dan bangau lukis (M. leucocephala) yang ditemukan pada populasi bangau di Singapura. Hal ini menghasilkan hibrida dari dua spesies tersebut.Ancaman berupa hibridisasi pada burung bluwok membutuhkan aksi konservasi segera. Tindakan konservasi di masa mendatang diharapkan dapat dilakukan berdasarkan data genetik konservasi untuk menghindari masalah yang lebih buruk jika individu yang telah bercampur genetiknya digunakan untuk pemuliaan konservasi dan reintroduksi.
Usaha yang dapat dilakukan saat ini yaitu melakukan identifikasi bangau hibrid dan mengisolasinya dari bangau bluwok untuk mencegah kawin silang, dan melalui analisis genetik dipastikan kemurnian rencana program pemuliaan dan atau pelepasannya (Baveja et al., 2019).Keberadaan sampah pada habitat burung perairan juga dapat mempengaruhi kelimpahan populasinya, seperti pada penelitian Ayujawi, S.A et al pada tahun 2021 di Muara Gembong, Jawa Barat.
Editor : Adrian Tuswandi, SH
