Lahan Basah Menipis, Bangau Bluwok Terancam Habis

Mycteria cinerea (IUCN red list, 2016).Suaka Margasatwa Pulau Rambut. (dok) Kegiatan monitoring bangau bluwok oleh BKSDA DKI Jakarta di Suaka Margasatwa Pulau Rambut (BKSDA Jakarta, 2016).
Mycteria cinerea (IUCN red list, 2016).Suaka Margasatwa Pulau Rambut. (dok) Kegiatan monitoring bangau bluwok oleh BKSDA DKI Jakarta di Suaka Margasatwa Pulau Rambut (BKSDA Jakarta, 2016).

Sampah anorganik yang terdapat pada daerah pesisir Muara Gembong dapat menurunkan kelimpahan spesies burung secara signifikan pada jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh tumpukan sampah anorganik yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove sebagai habitat burung, termasuk bangau bluwok.Sampah dapat menjadi sumber penyakit yang dapat menyebarkan virus dan patogen yang berbahaya bagi burung. Burung dapat memakan sampah plastik, dimana burung mengira sampah tersebut adalah makanannya.

Jika burung memakan sampah plastik, maka burung tersebut kenyang sehingga akan berhenti makan. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan terbang burung dan pada akhirnya menyebabkan kematian burung tersebut.Selain itu, ditemukan juga burung memakan kail ikan. Kail ikan yang berbahan logam tersebut berisiko terhadap burung dalam keracunan logam berat.

Upaya yang dapat dilakukan terhadap ancaman sampah pada daerah perairan yaitu dengan membersihkan lingkungan dari sampah, memperbaiki pengelolaan sampah, dan pengawasan kebersihan lingkungan secara berkala baik dari hulu sungai hingga hilir.Upaya ini diharapkan dapat menjaga populasi makhluk hidup khususnya burung perairan. Selain menjaga populasi hewan, diperlukan juga upaya untuk melindungi habitat demi melindungi organisme yang hidup di dalamnya.

Salah satu bentuk upaya yang sudah dilakukan sebagai bentuk konservasi bangau bluwok adalah Pulau Rambut.Pulau Rambut merupakan daerah yang bernilai penting bagi burung (Important Bird and Biodiversity/ IBA) dengan kategori A1 yang secara teratur mendukung keberadaan spesies burung yang terancam punah secara global.Bangau bluwok (Mycteria cinerea), dan Cikalang Christmas (Fregata andrewsi) merupakan dua jenis burung yang terancam kepunahan secara global di Pulau Rambut.

[caption id="attachment_64710" align="alignnone" width="800"] Suaka Margasatwa Pulau Rambut. (dok)[/caption]Suaka Margasatwa Pulau Rambut yang berada di arah Barat Laut Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara, merupakan tempat berkembang biak bagi sekitar 20.000 individu burung air dari 22 spesies burung air dan 39 spesies burung darat.

Pulau Rambut adalah satu-satunya tempat berkembang biak burung bangau bluwok di Pulau Jawa. Menteri Kehutanan dan Perkebunan menetapkan status Pulau Rambut sebagai Suaka Margasatwa melalui Surat Keputusan No. 275/Kpts-II/1999 pada 7 Mei 1999.Pulau Rambut merupakan salah satu lokasi Ramsar di Indonesia yang berperan dalam konservasi lahan basah yang menjadi habitat utama burung air, khususnya bangau. Keputusan ini merupakan langkah konkrit konservasi dan upaya perlindungan lahan basah secara berkelanjutan sebagai suatu kawasan yang dipilih spesies burung migran untuk singgah. Kawasan ini juga memiliki peran penting dalam konservasi lahan basah dan burung air yang kini dikenal sebagai Kepulauan Kerajaan Burung.

[caption id="attachment_64711" align="alignnone" width="533"] Kegiatan monitoring bangau bluwok oleh BKSDA DKI Jakarta di Suaka Margasatwa Pulau Rambut (BKSDA Jakarta, 2016).[/caption]Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta melakukan pemantauan Suaka Margasatwa Pulau Rambut pada tahun 2016. Berdasarkan hasil pemantauan, terjadi peningkatan jumlah individu bangau bluwok sebanyak 20 ekor atau sekitar 30,8% peningkatan yang terjadi. Diketahui pada tahun 2015 terdapat 65 ekor dan menjadi 85 orang pada tahun 2016.

Peningkatan populasi ini dipengaruhi oleh kegiatan pengembangan habitat seperti gotong royong membersihkan gulma dan sampah yang terdapat di sekitar Pulau Rambut dan melakukan monitoring secara rutin terhadap populasi bangau bluwok sebagai upaya konservasi pertumbuhan populasi. Selain itu, pertumbuhan populasi bangau juga dipengaruhi oleh musim hujan pada tahun 2016 yang lebih panjang dibandingkan tahun 2015.Bangau bluwok mengalami terus mengalami penurunan populasi yang cukup tinggi, hal ini tentu saja akan mempengaruhi pola ekosistem di masa depan. Telah diketahui banyak faktor yang mempengaruhi populasi bangau bluwok ini, seperti pengalihan fungsi lahan, fragmentasi habitat, hibridisasi, dan pencemaran lingkungan oleh sampah. Perlu adanya komitmen dalam berupaya menangani penurunan populasi bangau bluwok. Upaya tersebut diharapkan dapat dilaksanakan oleh semua elemen masyarakat dan pemerintah dengan cara bahu membahu dalam melindungi lingkungan.

 DAFTAR PUSTAKA

Ayujawi, S.A, Winarni, N.L., & Pradana, D.H. 2021. Short Communication: Bird correlations with waste in Muara Gembong, West Java, Indonesia. Biodiversitas 22 (9): 3872 - 3879.Baveja, Pratibha, et al. (2019). Impact of genomic leakage on the conservation of the endangered Milky Stork. Biological Conservation, vol. 229, no. -, 2019, pp. 59-66.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner JPS - BolaBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini