Bagi anak laki-laki Minangkabau, kemegahan dan kebanggaan menjadi laki-laki Minang adalah ketika mampu bertanggung jawab pada keluarganya yaitu ibu dan saudara-saudara perempuannya, dengan menjaga dan mengembangkan harta pusaka untuk anak-keponakan (anak dari saudara perempuan) demi kelestarian kaum dan suku yang dimilikinya.Entah siapa yang menyarukan konsep hidup laki-laki Minang, sehingga prinsip hidup Kaesang benar-benar "berminangkabau".
Kaesang itu anak seorang presiden. Tapi "kemegahannya" dan "kebanggaannya" bukan bangga dan mempalagakkan diri sebagai anak seorang presiden, namun adalah karena ia berdiri di atas kaki sendiri, bukan di atas kekuasaan sang ayah, bukan pula di bawah ketiak emak.Lagi-lagi, saya terpana, dan bertanya apakah Jokowi pernah "berguru" kepada "alam Minangkabau" sehingga hidup dan kehidupannya persis seperti falsafah orang Minang dalam kesepakatan "Adat Basandi Syarak, syarak Basandi Kitabullah". Jokowi sosok yang taat beragama, berkearifan lokal, rendah hati, dan tageh. Barangkali, pada Kaesang Jokowi pernah berpitaruh kata. Bila kata itu diminangkabaukan, bisa saja Jokowi berbisik pada Kaesang : " Nak, kok ingin kayo, kueklah mancari (Nak, bila kau ingin kaya, kerja...kerja...dan kerja keraslah), Nak pandai kuek baraja ( kalau ingin pandai belajarlah !). (analisa) Editor : Adrian Tuswandi, SH