Usai Retret, Dimana Nasionalisme dan Kebangsaan PWI

Peserta Retret Bela Negara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengikuti pembekalan di Aula Bela Negara Puskom Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Rumpin, Bogor, Januari 2026. (Foto: Ist)
Peserta Retret Bela Negara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengikuti pembekalan di Aula Bela Negara Puskom Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Rumpin, Bogor, Januari 2026. (Foto: Ist)

“Seharusnya bendera itu bergerak,” ujar Kolonel Inf Istanto sambil tersenyum seperti ingin mengatakan bahwa semangat bela negara para peserta retret PWI kurang kuat.

Apa yang disampaikan oleh Kolonel Inf Istanto bisa jadi merupakan sindiran kepada para wartawan yang tergabung di PWI bahwa semangat bela negara, bangsa, dan tanah air mereka sudah mengendur, melempem. Padahal PWI-lah yang dalam sejarahnya merupakan tonggak utama perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kedaulatan melalui karya jurnalistiknya.

Sejarah mencatat wartawan Indonesia berjuang menegakkan kedaulatan negara, membakar semangat nasionalisme melalui pengumpulan informasi yang ditulis dengan pena dan menyebarkannya melalui media cetak stensilan yang ada saat itu, berita-berita seputar perjuangan bangsa, pernyataan proklamasi di tengah tekanan penjajah dan propaganda asing.

Pers Republiken milik pribumi menjadi alat perjuangan dalam menyuarakan kemerdekaan dan memperkokoh persatuan bangsa melawan penjajah asing, membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajahan, sekaligus mencerdaskan bangsa.

Klimak perjuangan para kuli tinta itu dinyatakan dalam Kongres wartawan yang digelar pada 8-9 Februari 1946 di Solo yang menegaskan pers harus menjadi alat untuk mempertahankan kedaulatan negara. Jejak sejarah ini bisa dilihat di Monumen Pers Nasional yang menjadi tempat kongres yang masih berdiri tegak hingga kini.

Dalam perjalanan waktu, pers perjuangan bergeser menjadi pers industri seiring dengan mulai masuknya modal besar di dunia pers. Pemilik modal memberikan perhatian pada modernisasi pers dengan menyediakan teknologi cetak yang canggih, penyiaran berita melalui tv, radio, dan internet.

Di satu sini industrialisasi pers meningkatkan kecepatan pemberitaan, memperluas jangkauan, dan memberikan kesejahteraan lebih baik kepada para wartawan, di sini lain muncul masalah independensi, konflik kepentingan, melemahnya semangat nasionalisme, dan menjadi alat kepentingan pemilik modal.

Situasi tersebut tanpa sadar mempengaruhi mentalitas sejumlah wartawan sehingga muncul fenomena ‘wartawan amplop’, ‘bodrex’, ‘tukang pelintir’ dan lain-lain.

Melalui retret, kita disadarkan untuk kembali kepada tugas mulia seorang wartawan seperti yang dideklarasikan oleh para senior-senior di Solo 80 tahun lalu, yang juga diingatkan oleh tema pada kegiatan retret kali ini, yakni ”Memperkuat Pers yang Profesional, Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan untuk Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Keamanan Nasional”.

Perlunya meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan wartawan juga menjadi pesan penting yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan RI Sjafie Sjamsoeddin yang turut memberikan pembekalan dalam retret PWI yang berlangsung selama empat hari itu.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner PLN Black Out
Bagikan

Berita Terkait
Terkini