Ucapan Fakhrizal tak sekadar di mulut saja. Itu dibuktikannya. Dia merupakan pemimpin yang selalu diharapkan hadir. Kedatangannya selalu dinantikan, kepergiannya ditangisi. “Saya hanya menjalankan apa yang seharusnya dijalankan seorang pemimpin. Tidak zamannya lagi pemimpin bersikap otoriter, anti kritik atau bertangan besi. Saat ini, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang humanis, tidak membedakan bawahan, atau mengelompokkan diri, serta asyik saja dengan kelompok yang dibuatnya. Sebagai pemimpin, saya pelindung bagi seluruhnya,” papar Fakhrizal.Seperti tulisan Insannul Kamil, Irjen Fakhrizal menjalankan tugas profesi kepolisian, keluarga dan kemasyarakatan yang sangat bersahaja dan penuh empati yang menunjung tinggi prinsip – prinsip agama dan adat istiadat. Fakhrizal tidak pernah menampilkan dirinya sebagai seorang Jenderal Polisi dan dalam kapasitas Kapolda yang harus ditakuti orang lain, sebaliknya karakter bersahaja dan penuh empati yang telah menjadi identitas dirinya, membuat semua lapisan masyarakat sangat menghormati dan menghargainya.
Lain halnya dengan persoalan yang menyangkut pelanggaran hukum, Fakhrizal akan menindaknya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Ia tidak tebang pilih dalam hal ini dan menjadikannya menjadi pemimpin yang sangat disegani di Sumatera Barat saat ini. Ia memberi contoh tauladan kehidupan beradat sesuai dengan ajaran adat budaya Minangkabau.[caption id="attachment_16367" align="aligncenter" width="768"]
Fakhrizal, Jenderal Bintang Dua. (foto: dok)[/caption]
Irjen Pol Fakhrizal memang sosok yang berkarakter Minangkabau sejati, humanis-egaliterian. Oleh karena itu, predikat yang pantas untuk beliau adalah; Polisi niniak mamak. Dia Kapolda yang selalu menerapkan nilai-nilai agama dan adat dalam rutinitas kesehariannya. Dia paham, menjadi polisi di Minangkabau, apalagi polisi yang berasal dari suku Minangkabu, bukan hanya sekedar menjalankan tugas-tugas sebagai polisi, tapi juga menjadi manusia yang bisa menghargai dan memanusiakan manusia yang lain, bukan malah menjustisfikasi, merendahkan atau malah mendiskriminasi.Tak Bisa Melihat Orang Susah
Kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan Fakhrizal adalah berbagi dengan bawahannya. Jika pulang kantor, Fakhrizal acap kali memberi uang belanja kepada jajarannya. Mulai dari pintu keluar hingga jelang masuk ke pintu mobil. Dari ajudan hingga petugas jaga di Mapolda Sumbar, diberinya uang.Cara itu dilakukan Fakhrizal sebagai bentuk menghargai pengabdian bawahannya, sekaligus untuk mendekatkan diri dengan bawahan, membangun temali silaturahmi. “Setiap tetes keringat itu mesti dihargai,” tuturnya.
Kelemahan Fakhrizal yakninya tak bisa melihat orang susah. Dia tak sampai hati menyaksikan atau mendengar nasib pilu seseorang. Semisal, jika menemani istri belanja ke pasar, dan melihat ada penjual yang galehnya tak laku-laku, Fakhrizal akan memborongnya. Pengamen di Kota Padang banyak kenal dengannya, karena selalu diberi uang, begitu juga dengan tukang sapu, penjual kacang rebus, hingga pramusaji di warung-warung biasa dia makan dan minum.Cerita kepedulian Fakhrizal juga disampaikan Wasdian, komite Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Ketika berkunjung ke SDLB itu pada Agustus 2017, Fakhrizal langsung memberikan bantuan mobil operasional. Biaya pembelian mobil itu dari kantong pribadinya. Tak sampai di situ, Fakhrizal juga memastikan para guru SDLB tercukupi kebutuhannya.
“Ada 14 orang guru SDLB yang dibantu Kapolda. Setiap bulan, gaji mereka ditambah Rp500 ribu. Itu sampai sekarang. Kapolda yang memberikannya,” papar Wasdian.Kisah kebaikan Fakhrizal tak hanya berhenti di Wasdian, entah sudah berapa banyak orang yang dibantunya. Selain itu, Fakhrizal juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan kegiatan berbau budaya, dan olahraga. Sejak dia menjabat Kapolda Sumbar, dunia olahraga di Sumbar kembali bergairah. Para atlet disupport. Sekarang, Irjen Fakhrizal sedang menggelorakan pengembangan bakat pesepakbola di seluruh pelosok Sumbar, dengan program bantuan bola ke setiap nagari. Program yang dijalankan Fakhrizal, hanya bertujuan agar nama Sumbar kembali hidup di kancah olahraga nasional, seperti dahulu. Dia merasa iri dengan daerah lain, yang mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi, berbeda dengan Sumbar. Dunia olahraga Sumbar seolah jalan di tempat.Padahal, jika mau, Fakhrizal bisa saja tak peduli dengan segala hal di luar institusi kepolisian, tapi dia tidak bisa. Dia ingin Sumbar maju, terdepan, masyarakatnya damai, aman, dan sejahtera.“Saya memiliki keterikatan bathin dengan negeri ini, dan ingin setiap orang mendapatkan haknya dengan rata. Itu pula sebabnya saya tak ingin Sumbar kalah oleh daerah lain, dari segi apa saja, termasuk olahraga. Saya ingin nama Sumbar kembali harum, dan dihormati dan disegani. Hanya itu alasan saya berbuat, tak lebih,” paparnya.
Fakhrizal kini sudah berusia 56 tahun. Dia sosok jenderal yang lain dari yang lain, selalu membawa angina perubahan dimana saja berdinas. Tujuannya memimpin jelas tidak hanya untuk disegani, tapi untuk berbuat lebih demi kepentingan orang banyak. Fakhrizal pemimpin yang sudah mengalami banyak ujian dari pasang surutnya kehidupan. Sikap rendah hati yang dimilikinya, dan ketulusannya melayani merupakan buah dari ujian yang dilalui. Fakhrizal berarti, tidak hanya bagi dirinya, keluarga dan orang-orang terdekat, tapi juga bagi institusi kepolisian serta Sumatera Barat, kampung halaman yang dicintainya semati-mati cinta.(*analisa/terbit di berbagai media di Sumbar)
Editor : Adrian Tuswandi, SH