Berdasarkan data industri, kapasitas terpasang industri semen di Indonesia telah mencapai lebih dari 110 juta ton per tahun, sedangkan konsumsi nasional dalam beberapa tahun terakhir hanya berkisar 65–70 juta ton. Artinya, terdapat kelebihan kapasitas produksi (oversupply) yang sangat besar. Akibatnya, persaingan harga menjadi semakin keras dan tajam.
Fenomena predatory pricing, perang harga, hingga praktik dumping di sejumlah wilayah pemasaran menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh industri semen nasional, termasuk Semen Padang.
Dalam kondisi seperti ini, efisiensi menjadi keharusan. Holding PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) pun melakukan pengaturan wilayah pemasaran dan sinergi antar anak perusahaan agar persaingan di dalam grup tidak saling melemahkan.
Efisiensi saja tidaklah cukup. Ada satu modal lain yang tidak kalah penting, yakni modal sosial. Masyarakat Jawa Timur telah membuktikan itu. Warga Jawa Timur memiliki kebanggaan yang sangat kuat terhadap Semen Gresik. Produk lokal itu mendapat tempat "istimewa" dalam berbagai proyek pemerintah maupun pilihan masyarakat. Kebanggaan itu tumbuh bukan semata karena harga, tetapi karena adanya rasa memiliki terhadap industri yang telah menjadi bagian dari sejarah daerahnya.
Pertanyaannya, mengapa hal yang sama tidak bisa kita bangun di Sumatera Barat? Memilih produk daerah bukan berarti menutup pasar atau memusuhi kompetitor. Persaingan tetap harus sehat dan sesuai aturan. Namun ketika kualitas produk setara, keberpihakan terhadap industri yang selama puluhan tahun menghidupi masyarakat adalah bentuk tanggung jawab sosial sekaligus investasi ekonomi bagi daerah sendiri.
Ingat, setiap sak Semen Padang yang digunakan sesungguhnya ikut menggerakkan penghasilan pekerja, mitra usaha, pelaku transportasi, UMKM, hingga penerimaan daerah.Sebagai seorang jurnalis, saya melihat Semen Padang bukan sekadar entitas bisnis. Ia adalah bagian dari sejarah bangsa. Ia adalah simbol perjuangan ekonomi dan kedaulatan industri strategis. Ia adalah kebanggaan masyarakat Sumatera Barat.
Kita tentu tidak pernah lupa bagaimana para tokoh daerah, pemerintah, karyawan, dan masyarakat pernah berjibaku mempertahankan perusahaan ini. Nama mantan Gubernur Sumbar yang juga mantan Menko Kesra Ir. Azwar Anas menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan panjang modernisasi Semen Padang ketika perusahaan menghadapi berbagai tantangan pada masa lalu.
Kini tantangannya berbeda. Jika dahulu tantangannya adalah membangun pabrik, hari ini tantangannya adalah memenangkan persaingan global.
Momentum 68 tahun nasionalisasi Semen Padang seharusnya wadah evaluasi bersama . Sudah tiba masanya kita mengubah pertanyaan. Sudah tak tepat rasanya kita menanyakan, "Apa yang telah diberikan Semen Padang kepada kita?" Bagaimana kalau kita balik pertanyaanya menjadi, "Apa yang dapat kita berikan untuk menjaga keberlangsungan Semen Padang?"
Editor : Editor
