Namun, yang paling berharga adalah keberanian yang ia tanamkan kepada jutaan orang untuk terus bermimpi.
Ia membuat rakyat Mesir percaya bahwa mimpi sebesar apa pun layak diperjuangkan.
Karena itu, ketika peluit panjang berbunyi dan perjalanan Mesir berakhir, sesungguhnya ada sesuatu yang tetap hidup. Harapan itu tidak ikut kalah. Inspirasi itu tidak ikut padam.
Trofi mungkin jatuh ke tangan tim lain nantinya. Tetapi rasa hormat, cinta, dan kekaguman dunia mengalir kepada Mesir dan kepada Mohamed Salah.
Yang bisa kita tekankan, sepak bola bukan hanya tentang siapa yang menang. Sepak bola juga tentang siapa yang mampu menyentuh hati manusia.Dan dalam pertandingan itu, Mesir telah menjadi juaranya.
Selamat, Egypt. Mungkin bukan juara di papan skor. Namun, selamanya juara di hati dunia. (***)
Editor : Editor
