Lembah Anai Terus Menangis, Alam Sumbar Sedang Menagih Ulah Manusia

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Oleh: Gilang Gardhiolla Gusvero, Wartawan

Setiap kali hujan turun di Lembah Anai, rasa cemas ikut turun bersama tetes-tetes airnya.

Masyarakat yang melintas di jalur itu kini tak lagi sekadar memikirkan kemacetan.

Mereka memandang tebing-tebing yang menjulang dengan penuh kekhawatiran.

Longsor demi longsor yang terjadi silih berganti telah mengubah hujan menjadi sesuatu yang menakutkan.

Di balik semua itu, ada sebuah pertanyaan yang terus mengusik: apakah ini hanya bencana alam, ataukah alam sedang memperlihatkan akibat dari ulah manusia sendiri?

Banyak yang khawatir, ketika memasuki Januari hingga Februari nanti, saat curah hujan diperkirakan kembali tinggi, daerah-daerah seperti Sijunjung, Solok, hingga kawasan Lembah Anai akan menghadapi risiko bencana yang semakin besar.

Kekhawatiran ini bukan ramalan, apalagi ingin menjadi dukun. Ini adalah analisis sederhana atas hubungan sebab dan akibat.

Ketika hujan semakin deras sementara hutan terus dibuka dan gunung terus dikeruk, alam kehilangan kemampuannya untuk melindungi manusia.

Dalam beberapa bulan terakhir, kerusakan lingkungan akibat Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Sumatera Barat disebut semakin masif.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner - GorBanner Rahmat Saleh - Gema
Bagikan

Berita Terkait
Terkini