Kepercayaan Publik dan MDMC 4.0: Ketika Jejaring Kemanusiaan Menjadi Kekuatan Bangsa

Irdam Imran, Pengamat Politik Media Digital. (Foto: Ist)
Irdam Imran, Pengamat Politik Media Digital. (Foto: Ist)

Oleh: Irdam Imran, Pengamat Politik Media Digital

Bencana selalu datang membawa ketidakpastian. Tetapi satu hal yang seharusnya tidak boleh ikut menjadi tidak pasti adalah kehadiran pertolongan.

Ketika gempa mengguncang, banjir merendam permukiman, longsor memutus akses, atau erupsi memaksa masyarakat meninggalkan rumahnya, warga tidak membutuhkan terlalu banyak teori. Mereka membutuhkan pertolongan yang cepat, terkoordinasi, dan dapat dipercaya.

Di titik inilah kepercayaan publik menemukan maknanya sebagai modal sosial.

Pesan tersebut menjadi salah satu resonansi penting dari Rakernas Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Yogyakarta, 11–13 September 2026. Senator RI asal Sumatera Barat, Irman Gusman, yang juga Ketua Dewan Penasehat MDMC Sumatera Barat, mendorong agar kepercayaan publik terhadap Muhammadiyah dikonversi menjadi kapasitas nyata untuk melindungi masyarakat dan mempercepat pemulihan setelah bencana.

Gagasan itu bukan sekadar bagaimana MDMC menjadi lebih cepat mengirim bantuan. Lebih jauh, ia berbicara mengenai bagaimana seluruh kekuatan sosial yang dimiliki Muhammadiyah dapat dihubungkan dalam sebuah jejaring kemanusiaan dan ketangguhan masyarakat.

Irman memperkenalkan gagasan pengembangan yang disebut MDMC 4.0 atau Integrated Humanitarian and Resilience Network. Istilah tersebut bukan nomenklatur resmi organisasi, melainkan sebuah gagasan untuk melanjutkan penguatan tanggap darurat, manajemen bencana, dan pembangunan ketangguhan masyarakat yang selama ini telah berjalan.

Maknanya sederhana, tetapi strategis: jangan biarkan kekuatan yang besar bekerja sendiri-sendiri.

Muhammadiyah mempunyai sekolah, kampus, rumah sakit, klinik, masjid, kader, organisasi otonom, relawan dan jaringan sosial yang luas. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya. Dunia usaha memiliki kemampuan logistik dan pembiayaan. Perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan. Media memiliki kemampuan membangun kesadaran publik.

Jika seluruh kekuatan itu dapat dihubungkan, Indonesia tidak hanya memiliki lembaga penanggulangan bencana, tetapi sebuah ekosistem kemanusiaan.

Editor : Editor
Banner Relasi Publik
Bagikan

Berita Terkait
Terkini