Oleh: Irdam Imran, Mantan Birokrat Parlemen Senayan
Pidato Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Bachtiar Najamudin dalam Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026, menyampaikan pesan penting tentang bagaimana bangsa ini seharusnya memperlakukan para pemimpin yang pernah memegang mandat tertinggi dalam negara.
Sultan memberikan penghormatan kepada seluruh Presiden Republik Indonesia terdahulu sebagai negarawan yang memiliki kontribusi dan capaian nyata sesuai dengan tantangan zamannya. Soekarno dikenang sebagai Bapak Proklamator, Soeharto sebagai Bapak Pembangunan, B.J. Habibie sebagai Bapak Teknologi, Abdurrahman Wahid sebagai Bapak Pluralisme, Megawati Soekarnoputri sebagai Srikandi Konstitusi, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Bapak Perdamaian, dan Joko Widodo sebagai Bapak Infrastruktur.
Penghormatan seperti itu tentu penting dalam tradisi kenegaraan. Bangsa yang dewasa tidak dibangun dengan cara menghapus jasa para pendahulunya. Setiap Presiden mempunyai konteks sejarah, tantangan politik, sosial dan ekonomi yang berbeda. Mereka bekerja dalam zaman yang berbeda pula.
Namun, ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan: menghormati pemimpin tidak berarti membebaskan rekam jejak kepemimpinannya dari kritik sejarah.
Inilah salah satu wajah demokrasi yang santun dan beradab.Demokrasi yang santun bukan demokrasi yang kehilangan daya kritis. Sebaliknya, demokrasi yang santun adalah demokrasi yang mampu menyampaikan kritik tanpa kebencian, melakukan koreksi tanpa penghinaan, serta memberikan penghormatan tanpa berubah menjadi kultus kekuasaan.
Seorang Presiden adalah pemegang mandat rakyat dalam batas waktu tertentu. Setelah masa jabatannya selesai, ia menjadi bagian dari sejarah bangsa. Jasa dan keberhasilannya akan dikenang, tetapi kebijakan dan keputusan politiknya juga akan terus diuji oleh perjalanan waktu.
Karena itu, berbagai julukan yang disematkan kepada para Presiden hendaknya tidak berhenti sebagai simbol penghormatan. Julukan tersebut harus menjadi pintu masuk bagi generasi berikutnya untuk melihat secara objektif apa yang telah diwariskan kepada bangsa.
Soekarno sebagai Bapak Proklamator mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan hadiah. Kemerdekaan harus dirawat dengan kedaulatan politik dan keberanian menentukan nasib sendiri.
Editor : Editor



