Diplomasi Rendang Ketika Gempa NTT Memanggil

Irdam Imran. (Foto: Ist)
Irdam Imran. (Foto: Ist)

Oleh: Irdam Imran

Gempa NTT memanggil.

Dan dari kejauhan, Sumatera Barat menjawabnya bukan dengan pidato, bukan pula dengan seremoni kenegaraan. Ia menjawab dengan rendang.

Inilah diplomasi Indonesia yang paling sederhana, tetapi mungkin justru paling manusiawi: diplomasi rendang.

Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 telah meninggalkan duka mendalam. Hingga 19 Agustus, BNPB melaporkan jumlah korban meninggal mencapai 71 orang. Di tengah kepedihan itu, berbagai daerah bergerak mengirimkan bantuan. Sumatera Barat memilih sesuatu yang sangat dekat dengan identitas budayanya: rendang.

Masyarakat Minangkabau melalui LKAAM dan Gebu Minang menggalang bantuan hingga lima ton rendang. Pengiriman pertama sekitar 700 kilogram telah diberangkatkan menggunakan Hercules TNI AU.

Mengapa rendang?

Karena rendang bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol ketahanan, gotong royong dan ingatan sosial.

Rendang mampu bertahan dalam perjalanan panjang. Ia dapat dikonsumsi tanpa proses memasak yang rumit. Dalam situasi pengungsian, ketika dapur rumah mungkin telah runtuh dan peralatan memasak tidak tersedia, sebungkus rendang bukan hanya makanan. Ia adalah pesan:

"Saudaramu di Sumatera Barat tidak melupakanmu."

Editor : Editor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini