Di sinilah diplomasi rendang memperoleh makna yang lebih dalam.
Indonesia sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh diplomasi negara dengan negara. Indonesia juga dibangun oleh diplomasi rakyat dengan rakyat. Ketika Aceh berduka, ketika Palu berduka, ketika Lombok berduka, ketika Sumatera Barat mengalami gempa besar 2009, masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara datang membawa apa yang mereka punya.
Kini giliran NTT.
Masyarakat Minang masih mengingat bagaimana Indonesia datang membantu Sumatera Barat ketika gempa 2009 menghancurkan Padang dan sekitarnya. Karena itu, ketika saudara sebangsa di NTT mengalami musibah, ingatan itu berubah menjadi tindakan.
Duka tidak mengenal batas provinsi. Solidaritas tidak membutuhkan paspor.
Rendang yang terbang dari Minangkabau menuju Flores akhirnya menjadi semacam bahasa Indonesia yang tidak membutuhkan penerjemah.
Ia mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki modal sosial yang sangat besar: rasa senasib sebagai satu bangsa.Di tengah politik yang sering kali penuh perdebatan, transaksi kekuasaan dan kompetisi elektoral, diplomasi rendang menawarkan wajah Indonesia yang berbeda. Wajah yang tidak sibuk bertanya, "Kamu memilih siapa?" tetapi bertanya, "Apa yang bisa saya bantu?"
Itulah politik kemanusiaan.
Itulah Pancasila dalam bentuk yang paling sederhana.
Editor : Editor