Bukan Pancasila yang berhenti di podium dan spanduk, melainkan Pancasila yang masuk ke dapur-dapur rakyat, dimasak oleh tangan-tangan ibu dan Bundo Kanduang, dikemas, kemudian diterbangkan menuju saudara yang sedang kehilangan rumah dan keluarga.
Karena itu, diplomasi rendang bukanlah diplomasi yang kecil.
Ia justru mengingatkan pemerintah bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya berada di Istana, kementerian, parlemen atau markas institusi negara. Kekuatan Indonesia juga berada di dapur rakyat, di masjid, gereja, nagari, kampung, desa dan komunitas masyarakat sipil.
Negara mempunyai BNPB, TNI, Polri dan berbagai lembaga untuk menangani bencana. Semua itu penting. Distribusi bantuan juga harus dilakukan secara terkoordinasi agar tepat sasaran dan tidak menumpuk di satu tempat. BNPB sendiri mempercepat distribusi bantuan melalui jalur udara dan laut.
Tetapi negara tidak boleh kehilangan satu hal yang paling fundamental: empati.
Dan empati itulah yang sedang dikirim Sumatera Barat bersama rendang.Rendang hari ini bukan hanya makanan Minangkabau. Ia telah menjadi duta kemanusiaan.
Dari Padang menuju Flores, ia membawa pesan bahwa jarak geografis tidak boleh menjadi jarak emosional. Bahwa Minangkabau dan NTT mungkin berbeda adat, bahasa dan tradisi, tetapi berada di bawah satu rumah besar bernama Indonesia.
Maka ketika gempa NTT memanggil, sesungguhnya yang bergerak bukan hanya rendang.
Yang bergerak adalah ingatan.
Editor : Editor