Dari Merantau ke Brain Circulation: Mengubah Diaspora Minang Menjadi Kekuatan Pembangunan

Irdam Imran. (Foto: Ist)
Irdam Imran. (Foto: Ist)

Dengan teknologi digital, jarak geografis semakin kehilangan makna.

Dari Kebanggaan Menjadi Kontribusi

Ada satu hal yang perlu diubah dalam cara kita memandang diaspora.

Kita sering merasa bangga ketika mendengar orang Minang berhasil di rantau. Tetapi kebanggaan saja tidak cukup. Kesuksesan individu harus dapat dikonversi menjadi energi kolektif.

Pertanyaannya bukan hanya: berapa banyak orang Minang yang sukses di rantau?

Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak pengetahuan, modal, teknologi, kesempatan, dan jejaring dari rantau yang kembali mengalir ke ranah?

Di sinilah semangat brain circulation menjadi agenda pembangunan.

Sumatera Barat membutuhkan mekanisme yang memungkinkan diaspora berkontribusi secara mudah dan terukur. Pemerintah daerah dapat membangun basis data profesional diaspora, program mentor bagi generasi muda, jejaring investasi, kolaborasi riset, serta kanal pemasaran produk UMKM.

Nagari juga perlu dipersiapkan agar mampu menjadi penerima manfaat dari jaringan diaspora tersebut.

Merantau sebagai Investasi Peradaban

Pada akhirnya, merantau bukan sekadar tradisi. Ia adalah mekanisme sosial yang telah berlangsung lintas generasi.

Editor : Editor
Banner JMSI 2026
Bagikan

Berita Terkait
Terkini