Oleh: Zukra Budi Utama
Membangun kota digital tidak harus dimulai dari membuat aplikasi. Gagasan ini berangkat dari pertanyaan yang lebihmendasar: bagaimana sebuah kotadapat belajar darimasyarakatnya, mengenalipersoalannya, dan mengubah pengetahuan tersebut menjadi solusi yang terus berkembang?
Dari pemikirantersebut lahir konsep Padang Digital Citizen & People’s Economy Platform, sebuah ekosistem yang mempertemukanmasyarakat, pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan alumni untuk membangun masa depan kota.
“Saya tidak ingin sekadarmembangun aplikasi. Saya ingin membangun sebuah sistem yang membuat kota mampu belajar darimasyarakatnya—dari masalah yang mereka hadapi, darigagasan mereka, kemudian mengubahnya menjadi solusi yang bisa terus berkembang.”
Bagi penggagasnya, teknologihanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang tersebar di masyarakatdapatdihubungkan dan digunakan untuk mengambil keputusan.
Warga memiliki pengalaman langsung terhadap persoalankota. Pemerintah memiliki kewenangan dan data. Akademisi memiliki pengetahuan. Dunia usaha memiliki pengalaman implementasi. Komunitas memiliki kedekatan dengan masyarakat. Sementara alumni memiliki pengalaman yang diperolehdari berbagai lingkungan setelahmeninggalkankota.Jika seluruh kekuatantersebutdipertemukan, kota tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memiliki kemampuan untuk belajar daridirinya sendiri.
Masyarakat sebagai sumber pengetahuan
Salah satugagasanutama dalam konsep tersebutadalahmengubah posisi masyarakatdarisekadar pengguna layanan menjadi sumber pengetahuan dan inovasi.
Melalui Forum Inovasi Kota Digital, masyarakatdapat menyampaikan persoalan dan gagasan dalam berbagai bidang, sepertiekonomi, pendidikan, kesehatan, pariwisata, lingkungan, maupun pelayananpublik. Gagasantersebut kemudian dapatdianalisis berdasarkan manfaat, biaya, dan risiko sebelum dikembangkan menjadi program atau proyek percontohan.
Editor : Editor