Tradisi tersebut telah membentuk karakter orang Minang: berani keluar dari zona nyaman, mudah beradaptasi, membangun jaringan, dan belajar dari lingkungan baru.
Tantangan zaman sekarang adalah bagaimana nilai tersebut diterjemahkan ke dalam ekosistem pembangunan modern.
Karena itu, gagasan Irman Gusman tentang brain circulation patut dibaca bukan sekadar sebagai konsep ekonomi atau ketenagakerjaan. Ia merupakan upaya menghidupkan kembali filosofi merantau dalam konteks abad ke-21.
Merantau berarti pergi untuk tumbuh. Tetapi pertumbuhan itu tidak boleh berhenti pada keberhasilan pribadi.
Ia harus kembali menjadi manfaat sosial.
Pergi untuk tumbuh, terhubung untuk berbagi, dan berkontribusi kembali.Jika prinsip itu berhasil dibangun, diaspora Minangkabau bukan lagi sekadar kumpulan orang yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka dapat menjadi jaringan pengetahuan, modal, teknologi, dan kepemimpinan yang terus mengalir antara rantau dan ranah.
Dengan demikian, merantau tidak lagi dimaknai sebagai kehilangan anak nagari.
Merantau adalah cara nagari memperluas jangkauan dirinya kepada dunia—agar dunia yang dipelajari di rantau pada akhirnya kembali memberi cahaya bagi ranah. (***)
Editor : Editor