Oleh: Rezki Aryendi, SH, Ketua PC Garuda KPP RI Tanah Datar
Dalam tradisi Minangkabau, ada ungkapan yang sangat dekat dengan cara kita menilai seseorang: “dicaliak dari ratak tangan.” Maknanya sederhana, seseorang dinilai bukan semata-mata dari apa yang ia katakan, tetapi dari apa yang telah ia kerjakan dan bagaimana ia berbuat.
Ungkapan ini rasanya relevan ketika kita berbicara tentang kontestasi Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Menjadi Ketua KNPI bukan sekadar soal siapa yang paling banyak memasang baliho, siapa yang paling ramai mengklaim dukungan, atau siapa yang paling sering menyebut dirinya sebagai representasi pemuda.
Lebih dari itu, Ketua KNPI harus dilihat dari rekam jejak perjuangannya.
Pemuda tentu membutuhkan pemimpin yang hadir ketika ada persoalan, bukan hanya muncul ketika membutuhkan dukungan. Pemimpin pemuda harus mampu membuktikan bahwa dirinya telah berbuat sebelum meminta kepercayaan.Di sinilah filosofi “dicaliak dari ratak tangan” menjadi penting.
Lihat tangannya. Apa yang sudah dikerjakan?
Apakah selama ini ia aktif membangun organisasi? Apakah ia pernah memperjuangkan kepentingan pemuda? Apakah ia memiliki gagasan untuk meningkatkan kapasitas generasi muda? Apakah ia mampu merangkul perbedaan? Dan yang tidak kalah penting, apakah ia memiliki keberanian untuk berdiri bersama masyarakat ketika kepentingan publik membutuhkan pembelaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat siapa yang paling populer dalam sebuah kontestasi.
Editor : Editor