Dari Merantau ke Brain Circulation: Mengubah Diaspora Minang Menjadi Kekuatan Pembangunan

Irdam Imran. (Foto: Ist)
Irdam Imran. (Foto: Ist)

Oleh: Irdam Imran

Merantau adalah salah satu identitas kultural yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Dari dahulu hingga kini, orang Minang dikenal sebagai masyarakat yang berani meninggalkan kampung halaman, menempuh perjalanan jauh, membangun kehidupan baru, dan pada saat yang sama tetap membawa ingatan tentang ranah.

Namun, di tengah perubahan zaman, tradisi merantau tidak cukup hanya dipahami sebagai perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Merantau perlu diberi makna baru sebagai kekuatan brain circulation—sirkulasi pengetahuan, pengalaman, jejaring, teknologi, modal, dan gagasan dari rantau menuju ranah.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Rangkayo Minang Indonesia (RMI) bertajuk “Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia” di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (27/8/2026). Senator RI asal Sumatera Barat, Irman Gusman, dalam keynote speech-nya mengingatkan bahwa tradisi merantau sesungguhnya memiliki fondasi yang kuat dalam falsafah Minangkabau.

Pepatah “Karatau madang di hulu, babuah babungo balun; marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun” mengandung pesan bahwa merantau adalah proses pendewasaan.

Anak muda pergi bukan semata-mata untuk meninggalkan kampung halaman. Ia pergi untuk belajar, bekerja, mencari pengalaman, menguji kemampuan, membangun keberanian, dan memperluas pergaulan. Pada waktunya, apa yang diperoleh di rantau diharapkan memberikan manfaat bagi keluarga dan nagari.

Di sinilah konsep brain circulation menemukan relevansinya.

Bukan Brain Drain

Selama ini, salah satu persoalan pembangunan daerah adalah brain drain, ketika orang-orang terbaik meninggalkan daerah dan kemudian tidak lagi memiliki hubungan produktif dengan daerah asalnya.

Mobilitas manusia sering dipandang sebagai kehilangan. Padahal, mobilitas juga dapat menjadi investasi sosial apabila hubungan antara perantau dan daerah asal tetap terpelihara.

Seorang dokter yang bekerja di Melbourne, misalnya, tidak harus kembali menetap di Sumatera Barat untuk memberikan kontribusi. Ia dapat membimbing tenaga kesehatan di kampung melalui teknologi digital.

Editor : Editor
Banner JMSI 2026
Bagikan

Berita Terkait
Terkini