Lihat keberaniannya memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Dan lihat pula apakah ia benar-benar siap mengabdi setelah mendapatkan jabatan.
Sebab menjadi Ketua KNPI bukan tentang “siapa yang paling ingin menjadi ketua”, tetapi tentang “siapa yang paling siap bekerja untuk pemuda.”
Pada akhirnya, jabatan akan berakhir. Musda akan selesai. Spanduk akan diturunkan. Tetapi rekam jejak perjuangan akan tetap dikenang.
Maka, dalam memilih pemimpin pemuda, mari kembali kepada filosofi sederhana orang Minang:“Dicaliak dari ratak tangan.”
Bukan dari banyaknya kata yang diucapkan, tetapi dari banyaknya kerja yang telah dilakukan.
Karena pemuda tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara. Pemuda membutuhkan pemimpin yang mau bekerja dan berjuang. (***)
Editor : Editor