Konektivitas Sumbar: Tiga Putra Minang Dorong Pembangunan Ekonomi Daerah

Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)
Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)

Sitinjau Lauik, Memangkas Risiko dan Jarak

Beranjak ke pinggiran Kota Padang, Flyover Sitinjau Lauik juga menjadi simpul penting koneksasi. Jalan layang ini dibangun untuk menjawab persoalan lama di jalur Padang–Solok. Tanjakan curam, tikungan tajam, serta risiko kecelakaan yang selama bertahun-tahun menghantui pengendara.

Jalur Panorama I dan Panorama II bukan nama yang asing bagi pengemudi yang melintasinya. Ada kendaraan berat yang harus mengambil ancang-ancang. Ada mesin yang meraung keras ketika menaklukkan tanjakan. Ada pula pengemudi yang menahan napas saat kendaraan berpapasan di tikungan tajam.

Di situlah persoalan koneksasi terasa nyata. Jalan bukan sekadar penghubung dua kota. Jalan yang sulit dilalui juga dapat menjadi penghambat arus barang, meningkatkan biaya angkutan, memperpanjang waktu perjalanan, dan memperbesar risiko kecelakaan.

Flyover Sitinjau Lauik I dirancang sepanjang sekitar 2,77 kilometer. Proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp2,793 triliun, sedangkan nilai konstruksi dan nilai kontrak dapat berbeda sesuai cakupan pekerjaan dan tahapan proyek. Pelaksanaannya menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan masa kerja sama yang mencakup pembangunan dan layanan operasional.

Panjang ruas tersebut mungkin hanya beberapa kilometer. Namun, manfaatnya bisa melampaui angka di atas kertas. Dengan geometri jalan yang lebih aman, perjalanan Padang–Solok diharapkan menjadi lebih lancar. Risiko kendaraan kehilangan kendali, rem blong, atau tergelincir di jalur ekstrem dapat ditekan. Arus kendaraan barang pun berpeluang bergerak lebih efisien.

Ingat, Flyover bukan sekadar jembatan layang yang megah. Ia adalah investasi untuk memangkas risiko dan memperlancar pergerakan manusia serta barang. Di situlah nilai ekonominya.

Menghidupkan rel, Menggerakkan Ekonomi

Menarik sekali memdalami pesan, Kepala BP BUMN, Dony Oskaria. Reaktivasi kereta api tidak cukup hanya menghadirkan kembali layanan transportasi. Konektivitas merupakan simpul pergerakan ekonomi. Konektivitas bukan sekadar menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Konektivitas harus membuat hubungan tersebut menghasilkan nilai tambah.

Bagi saya, di sinilah makna konektivitas itu menjadi lebih luas. Kita tidak sedang membicarakan rel kereta api semata. Kita sedang membicarakan hubungan antara pelabuhan, jalan raya, jalur kereta api, kawasan pergudangan, sentra pertanian, pusat perdagangan, dan kawasan industri. Semua harus terhubung dalam satu sistem yang saling mendukung.

Konektivitas bukan hanya memperpendek jarak di atas peta. Ia harus memperpendek jarak antara produsen dan pasar, mengurangi hambatan distribusi, membuka kesempatan usaha, serta memperluas pemerataan kesejahteraan.

Padang Panjang Bersiaplah

Saya tak tahu apakah rencana reaktivasi kereta api Kayu Tanam–Padang Panjang sudah dibaca sebagai sebuah peluang ekonomi besar oleh Kota Padang Panjang atau belum.

Editor : Editor
Banner Ultah Golkar 20
Bagikan

Berita Terkait
Terkini