Karya-karya untuk umat manusia mungkin kalau diurai juga tak cukup wadah tujuh kali bumi untuk menampungnya.Pak Habibie memang tidak lama menjabat Presiden RI. Ia menggantikan Presiden Soeharto, yang minta berhenti pada 21 Mei 1998. Pak Habibie yang sebelumnya Wakil Presiden, menjabat Presiden RI selama 512 hari, sejak 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999.
Pada masa reformasi itu saya menangkap ada kesamaan sikap Pak Habibie dengan Pak Harto. Presiden RI yang berkuasa 32 tahun itu memilih berhenti Mei 1998. Padahak, secara real konstutusi masih berhak atas jabatan itu sampai tahun 2003.Kubah gedung kura-kura yang dikuasai ribuan mahasiswa rupanya menggedor kenegarawanannya. Itu siimbol rakyat yang tak lagi menghendaki dia.
Pak Harto bisa saja menggunakan seluruh kekuatan bersenjata untuk menghalau mahasiswa. Tapi itu tidak dilakukan. Pak Harto pasti sudah memperhitungkan resiko pertumpahan darah bakal terjadi. Dan, darah itu darah rakyatnya sendiri.Saya tidak mendengar komentar Pak Habibie soal sambutan gempita sebagian masyarakat menyambut peluncuran mobil Esemka yang diklaim buatan rakyat Indonesia baru-baru ini. Dia seakan memilih diam. Sambil membayangkan, mungkin, bagaimana ketika meluncurkan CN235 pesawat produksi anak -anak Indonesia . Yang dihadapinya resistensi dari sebagian politisi. Itu tigapuluh tahun lalu.
Pak Habibie telah tiada. Ia telah menghadap Ilahi Rabbi Rabu ( 11/9) petang pukul 18.05 di RSPAD. Tempat dia dirawat sejak 1 September lalu.Rasanya masih terbayang senyumnya, senyum penuh keikhlasan. Seperti itulah senyumnya menghias waktu terakhir ketemu beliau tahun lalu dalam sebuah acara perusahaan film MD. Senyum melekat sepanjang pertemuan itu. Senyum khasnya. Selamat jalan Pak. Semoga Husnul Khotimah.(analisa) Editor : Adrian Tuswandi, SH