Minang Marentak!

Gamawan Fauzi (foto: dok)
Gamawan Fauzi (foto: dok)

Kata orang Minang, tak ada kayu yang terbuang, kok pakak palatuih badia, kok buto pa ambuih lasuang, kok lumpuah pausia ayam. Menurut saya, itulah sikap profesional, karena manusia tidak tahu semua hal. No body is perfect. Dan karena itu pula pula tumbuh sikap rendah hati dan tawadhu' dan saling menghargai. Sekarang, kaki lah ta langkahan, tapijak arang, hitam tapak, kata orang Minang, bila berat rasanya minta maaf, saya hanya berharap, cukuplah sampai di sini mencederai orang lain atau komunitas lain. Kita ini sebagai manusia ada keterbatasan pengetahuan. Ade mungkin hebat dalam teori komunikasi bahkan bergelar doktor, orang lain tentu hebat pula di bidangnya masing-masing.Demi Allah, saya tak bermaksud mengajari Ade, disamping tak pantas, saya bukan orang yang lebih, justeru banyak kekurangan. Saya hanya ingin mengingatkan, agama saya mengajarkan, saling mengingatkan dengan kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. Karena saya menyayangi Ade Armando seorang guru dari para mahasiswa, yang akan digugu dan di tiru, seorang terdidik dan terpelajar, saya merasa rugi dan juga mungkin bangsa ini bila nanti Ade tak lagi dianggap seperti itu.

Untuk masyarakat Minang, dengan rendah hati saya meminta, kita maafkanlah Ade Armando sekali ini. Pemaaf itu lebih baik, kata Allah. Mari kita terus berbenah meraih kemajuan duniawi dan ukhrawi. Mudah mudahan kita memperoleh fiddun ya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina azabannaar. Masyarakat Minang tak usah ikut mencela. Kita diingatkan Allah dalam Alquran, wailullikulli humazatillumazah dst, Celakalah bagi pengumpat dan pencela. Mari kita lanjutkan kehidupan Ranah Minang yang makin islami, dalam negara Kesatuan Republik Indoneia ini yang kita cintai. Kita tentu ingat, betapa kakek nenek kita berandil besar dalam mendirikannya. Ingat angku kita Tan Malaka, Agus Salim, St. Sjahrir, Imam Bonjol, M. Natsir, Buya Hamka, Rahmah El Yunusiah, Rasuna Said, St. Moh Rasjid, Bung Hatta sang Proklamator, Yamin, Adinegoro, dan ratusan lainnya yang tak saya sebutkan satu persatu. Angku atau kakek nenek kita yang bersaham dalam mendirikan republik ini cintanya selaras antara kampung halamannya dan Indonesia. Cintanya pada Tanah Air tak menyurutkan cintanya kepada kampung halaman secara subjektif, seperti kata Einstein.Soal bernegara, Bung Hatta pernah mengutip kalimat Ernes Renan di sidang KMB. "Ada satu negeri yang menjadi negriku, negeri itu tumbuh dengan kekuatan, kekuatan itu ada di tanganku”

Mereka memegang keduanya sama sayangnya. Mari kita lanjutkan kehidupan masyarakat Minangkabau dan masyarakat Indonesia dengan taat aturan, damai dan taqwa.(analisa/ dikutip:https://www.khazminang.id/minang-marentak)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini