Oleh : Dony OskariaBELAKANG ini dunia pariwisata Indonesia sangat bergairah, topik pariwisata menjadi pembicaraan hangat di mana-mana, dari presiden sampai kepala desa semua bicara tentang pariwisata, sayangnya sedikit yang mengerti bagaimana melihat pariwisata sebagai sebuah industri sebagaimana yang diharapkan.
Presiden Jokowi menetapkan empat sektor industri yang diharapkan menjadi keunggulan Indonesia dan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia di masa mendatang, yaitu industri pariwisata, industri kreatif, industri maritim dan industri pertanian.Karena itu pengembangan industri diharapkan mengerucut kepada keempat sektor ini. Tentu bukan tanpa alasan pemerintah menetapkan ini, diyakini pada empat sektor ini indonesia memiliki keunggukan komparatif.
Pengalaman saya selaku ketua Pokja Industri Pariwisata Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia (KEIN) dan juga sebagai wakil ketua umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, mengantarkan saya untuk berinteraksi dengan banyak daerah yang berkeinginan mengembangkan pariwisatanya dan sebagian besar keliru di dalam menterjemahkan bagaimana mengembangkan pariwisata sebagai sebuah industri.Sebagaimana layaknya sebuah industri, pariwisata mempunyai parameter keberhasilan dan mempunyai "best practice" atau cara cara terbaik yang diterapkan didalam menjalankanya. Cara pandang kita juga demikian, harus melihat pariwisata adalah industri, sebagai sebuah industri tentu harus jelas siapa "target market" atau pasar yang disasar, apa keunggulan produk yang ditawarkan (unique value propotiton), bagaimana cara mendistribusikannya (distribution model), dan tentu saja harus dilakukan analisa kompetitor serta menentukan target yang akan dicapai.
Parameter keberhasilan di dalam pengelolaan pariwisata adalah jumlah kunjungan dan tingkat kepuasan kunjungan, dan tentu saja keberlangsungan destinasi (destination sustainability) tidak lebih daripada itu, parameter itulah yang diukur untuk menentukan tingkat keberhasilan seseorang di dalam mengelola pariwisata. Karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan target kunjungan yang harus dicapai. Ironisnya dalam banyak diskusi saya berkeliling banyak kepala dinas pariwisata yang tidak tahu berapa target kunjungan yang menjadi tanggungjawabnya.Manjadi kepala dinas pariwisata layaknya seperti seorang CEO perusahaan, dia mempunyai target angka yang harus dicapai, menentukan target market yang ingin disasar, membuat produk yang sesuai dengan segmentasi pasar, mendesain pola komunikasi "above the line" maupun "below the line", menentukan harga serta memonitor di dalam implementasinya. Karena itu semua daerah yang berhasil membangun pariwisatanya pasti dipimpin oleh orang yang memahami keseluruhan siklus dari industri paiwisata atau "tourism industry life cycle".
Bagian pertama dari tulisan ini, tentang produk pariwisata. Produk pariwisata harus dimulai dengan mendisain pengalaman yang ingin di sajikan kepada wisatawan "ultimate customer experience". Karena pada dasarnya yang dibeli oleh wisatawan adalah pengalaman, yaitu keseluruhan rangkaian yang dirasakan mulai dari menentukan pilihan sampai selesai melakukan kunjungan.Tentu saja dalam mendesain produk pariwisata setiap daerah harus memulainya dari apa "unique value propotion"nya, yaitu apa yang membuat kita berbeda, kenapa wisatawan harus datang ke tempat kita bukan ke tempat lain. Proses ini dapat dilakukan dengan cara:
1. Melakukan pemetaan (mapping) dari potensi destinasi yang dimiliki.2. Malakukan scoring berdasarkan kepadaa. akses ke destinasib. Intensitas kunjungan
c. tingkat ke unikand. Kualitas destinasi
e. keberlangsungan (sustainability)f. pengaruhnya secara nasional maupun international
3. Menentukan destinasi utama (main destination) dan destinasi pendukung (supporting destination) karena tidak ada pariwisata yang "single destination"4. Buatkan konsep yang tepat didalam pengambanganya.( hanya destinasi dengan rencana konsep yang baik yang akan berkembang maksimal)
Editor : Adrian Tuswandi, SH