Catatan Kritis Debat Publik Pertama Pilgub Sumatera Barat

oleh -456 views
Adminanda Rezki

Oleh: Adminanda Rezki
Koordinator Riset dan Program INDONESIA ELECTION WATCH

SETELAH menyaksikan Debat Publik Pertama antara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat, banyak masyarakat yang kecewa dengan kualitas pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar 2020.

Namun, apa boleh dikata pasangan calon sudah ditetapkan. Saya langsung teringat, tatkala Profesor Dr. Frans Magnis Suseno SJ, seorang dosen dan guru besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta pernah mengatakan “kita harus memilih yang kurang buruk di antara yang buruk”, atau diberbagai referensi lainnya, sering juga kita temui kutipan yang lain namun bernada sama dari Prof. Magnis Suseno, yakni “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.

Kita dari Indonesia Election Watch menilai, bahwa apa yang ditampilkan dan disampaikan oleh masing-masing pasangan kandidat pemilihan gubernur Sumatera Barat pada debat publik pertama tersebut masih jauh dari harapan masyarakat.

Misalnya, semua pasangan kandidat masih bicara normatif tentang bagaimana penciptaan UMKM di Sumatera Barat. Kita menyayangkan, tidak ada pasangan kandidat yang bahkan berbicara terkait penyelamatan UMKM yang sudah ada, namun dilanda kesusahan akibat kondisi pandemi covid-19. Itu pertanda bahwa apa yang disampaikan masih jauh dari realita yang ada.

Kemudian, dengan tema debat Ekonomi, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan lingkungan Hidup, pasangan kandidat kembali bicara general tentang konsepsi pembangunan ekonomi Sumatera Barat kedepan. Perlu untuk publik ketahui, bahwa Pada triwulan II 2020, ekonomi Sumatera Barat kontraksi pada level -4,91%. Alih-alih berbicara bagaimana kerja nyata untuk membangkitkan perekonomian kita yang merosot akibat pandemi covid-19 ini, para kandidat Pilgub Sumatera Barat justru lebih banyak mengumbar janji pembangunan infrastruktur, peningkatan SDM dengan usaha digital dan lain sebagainya.

Dan yang lebih mengecewakan ialah, tidak banyak pembicaraan mengenai pengelolaan sumber daya alam serta lingkungan hidup yang dibicarakan. Bahkan salah satu kandidat cenderung bersikap memperbolehkan illegal logging dan illegal mining.

Kalau kita telisik lebih jauh, untuk sumber daya alam yang kia miliki masih terjadi banyak permasalahan, tidak hanya untuk kelautan tapi juga didaratan. Bagaimana kemudian kasus-kasus perampasan lahan pertanian oleh berbagai perusahan besar yang ada di Sumatera Barat, bagaimana kemudian permasalahan pembangunan Geothermal yang belum memiliki titik terang, pertambangan liar yang kemudian muncul juga dikarenakan pemerintah yang abai terhadap ini.Dan banyak permasalahan lain yang Sumatera Barat miliki dan tidak dibahas sedikitpun pada debat publik pertama tersebut.

Inilah kemudian kenapa kita dari Indonesia Election Watch selalu mendorong dan menginginkan agar semua pihak yang bertanggung jawab saling bekerja sama menyediakan informasi yang cerdas kepada publik terhadap visi-misi yang dimiliki oleh masing-masing kandidat.

Selama ini, kita melihat konsumsi informasi terkait isi fikiran yang ada pada visi-misi calon sangat minim dapat diakses oleh publik. KPU Provinsi Sumatera Barat misalnya hanya fokus kepada sosialisasi terkait bagaimana perubahan perilaku ataupun aturan memilih disaat pandemi ini.

Saya fikir tidak ada salahnya, KPU dibeberapa laman resminya yang mudah diakses oleh masyaraat mencantumkan juga visi-misi dari masing-masing kandidat, artinya tidak hanya gambar diri kandidat saja beserta nomor urutnya.

Kenapa? Karena kita tahu bahwa pilkada sekarang berbeda engan sebelumnya, ada pandemi yang membuat terbatasnya ruang gerak dari masyarakat sebagai konstituen dalam berdiskusi ataupun menggali pemikiran dari masing-masing kandidat.

Kemudian untuk para kandidat sendiri, kita melihat seperti ada kesalahan arah campaign yang sama-sama dilakukan. Campaign dari kandidat sama sekali kita nilai belum mencerdaskan publik.

Bahkan menjelang pemilihan ditanggal 9 Desember nanti, para kandidat sibuk dengan jualan popularitasnya. Sosial media sebagai sarana alternatif campaign dimasa pandemi pun hanya dihiasi dengan konten-konten popularitas. Ini yang kemudian kita katakan, harusnya media sosial para kandidat tersebut bicara lebih banyak tentang program apa yang ingin mereka lakukan, dikemas dengan cara yang menarik sehingga tidak berkutat tentang bagaimana sosok diri masing-masing kanidat saja, tapi juga ada muatan program dan fikiran tentang calon gubernur dan wakil gubernur akan kondisi real Sumatera Barat.

Tapi, bagaimanapun juga, kita dari Indonesia Election Watch mengajak kepada masyarakat Sumatera barat untuk tetap optimis menggunakan hak suaranya pada pemilihan 9 Desember mendatang.

Antusiasme masyarakat dalam menyaksikan debat publik yang disiarkan secara langsung diberbagai platform media tentu menjadi bukti betapa kuatnya keinginan masyarakat Sumatera Barat dalam menilik kemampuan dan isi fikiran masing-masing kandidat untuk Sumatera Barat yang lebih baik kedepan.

Meski beberapa kalangan kelompok diskusi masyarakat akhirnya menyatakan bahwa sangat disayangkan nama-nama seperti Faldo Maldini yang punya semangat kebaruan untuk Sumatera Barat serta tokoh-tokoh lainnya yang sempat mencuat berencana maju dan bahkan sudah mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon gubernur sumbar disayangkan belum diberi kesempatan untuk maju. Sekarang apa boleh dikata. Ibaratkan nasi sudah menjadi bubur. Kalau mau enak mesti ditambah garam atau gula biar tidak hambar.

Kalaupun rasanya belum memadai. Ya, kepada masyarakat kami cuma bisa menghimbau untuk tidak pesimis. Kalau pun menurut bapak/ibu dunsanak semuanya dari empat pasangan calon yang tersedia tersebut tidak ada yang betul-betul sesuai pengharapan, Ya, minimal pilihan kedepan ialah paslon yang masih jujur dan berani menepati janjinya. Karena memimpin itu adalah soal menjaga komitmen dan tanggung jawab.(analisa)