"Hidup yang tak teruji, bukanlah hidup yang berarti”. Ungkapan Socrates, filsuf Yunani kuno, selalu ngiang di benak Fakhrizal kecil. Sebagai anak pertama dari enam saudara, kala muda, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumbar itu dituntut mampu menjadi teladan sekaligus pambangkik batang tarandam. Bagaimana kisahnya hingga memiliki karir cemerlang di kepolisian?--Oleh: BHENZ MAHARAJO--
TERLAHIR sebagai anak tentara, Fakhrizal kecil menghabiskan waktu selama 12 tahun di asrama Batalyon Infanteri (Yonif) 133, Air Tawar, Padang. Bapaknya, Sabri yang kini sudah berusia 80 tahun, merupakan anggota TNI AD dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu).Serupa anak kolong – sebutan bagi anak polisi atau tentara –, Fakhrizal menjalani hari-harinya di asrama. Namun, hidup yang dijalaninya jauh dari kata mapan.
Terlahir sebagai anak tentara, masa kecil Fakhrizal memang beda dengan kebanyakan anak tentara lainnya. Dia lebih gandrung bermain sepakbola dibandingkan berkumpul tanpa melakukan kegiatan berfaedah. Jika tak main bola, dia tanding voli, atau memilih membaca Alquran saja di rumah. Jarang dia bauru-uru. Setiap hari baginya mesti memberi arti, baik pada keluarga, atau lingkungan. Bermain sepakbola merupakan hobinya, bahkan Fakhrizal ikut seleksi skuat PSP Padang junior, klub sepakbola yang beberapa tahun nan lampau memiliki prestasi mentereng, sebelum akhirnya meredup. Keinginan Fakhrizal untuk menjadi pesepakbola professional terkubur seiring lulusnya dia seleksi Akademi Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).Memiliki seorang bapak dengan pangkat rendah dan bergaji yang tak seberapa, membuat keluarga Fakhrizal hidup seadanya, jauh dari kata mapan.
“Hidup enak waktu itu hanya ada dalam bayangan, maklum, bapak hanya tentara dengan pangkat rendah. Gajinya kecil, kadang untuk makan saja sulit” ungkap Fakhrizal, mencoba kembali merawikan kisah hidupnya di masa-masa sulit, ketika bertemu dengan penulis di rumah pribadinya, kawasan Siteba, Kota Padang beberapa waktu lalu. Senyum jenderal bintang dua asal Agam itu lebar, dengan alis yang agak terangkat ketika meluncurkan kalimat.Meski hidup melarat, sang bapak tak pernah membiarkan anaknya tak bersekolah. Segala hal diupayakan agar enam buah hatinya bisa menempuh pendidikan yang layak. Kalau bapak mengajarkan Fakhrizal bagaimana cara hidup disiplin, bertanggungjawab dan tahu diri, ibunya bernama Asmi (76) menanamkan nilai-nilai kehidupan, seperti berbagi kepada sesama, dan tidak jumawa. Ajaran kedua orang tua lah yang membentuk karakter Fakhrizal.
Hidup serba kekurangan, tak membuat keluarga asal Pakan Sinayan, Kamang Mudiak, Agam itu patah arang, terutama Fakhrizal. Sebagai anak tertua dari enam bersaudara, Fakhrizal tahu diri. Dia lelaki Minang, sedari kecil diajarkan beragama, beradat dan tahu tanggung jawabnya. “Di bahu saya terpikul masa depan keluarga, saya adalah pengharapan bapak dan ibu untuk mambangkik batang tarandam, menaikkan derajat keluarga dan menjaga kehormatannya,” papar Fakhrizal.Sebab itu, dia bekerja keras mewujudkan impiannya. Waktu duduk di bangku SMA, Fakhrizal bermimpi bisa menjadi tentara, seperti bapaknya, namun takdir menuntunnya ke pengabdian yang lain. Selepas menuntut ilmu di SMA Negeri 2, Padang, Fakhrizal tes Akabri, dan dinyatakan bergabung dengan korps kepolisian, bukan tentara seperti bapaknya.
“Lokasi pendaftaran waktu itu di markas Amandam, yang ada di Muaro Padang. Lewat pendaftaran itulah petualangan saya sebagai polisi dimulai,” ungkap ayah empat anak tersebut.Tuhan ternyata membukakan pintu lebar pada Fakhrizal untuk menjadi pambangkik batang tarandam keluarganya. Hanya sekali tes, dia lulus Akabri dan menempuh pendidikan kepolisian. Lepas pendidikan pada tahun 1986, dia ditempatkan di Polda Metro Jaya, persisnya sebagai Wapamapta Res Metro Jaksel, Polda Metro Jaya. Di awal-awal berdinas, Fakhrial berputar-putar di Polda Metro jaya saja. Hingga tahun 1990, terhitung dia pernah memikul empat jabatan. Selain Wapamapta, dia juga pernah menjadi Paur Minik Serse Res Jaksel, Kanit Resintel Res Metro Pasar Minggu dan Kanit Res Intel Metro Kebayoran Baru Polda Metro Jaya. Petualangan Fakhrizal sebagai polisi dimulai dari jantung Indonesia.
Menemukan Tambatan HatiJuni, tahun 1988 barangkali menjadi bulan yang tak akan pernah dilupakan Fakhrizal. Di bulan itulah dia bertemu dengan tambatan hatinya, Ade Fakhrizal, peragawati muda. Keduanya bertemu setelah Ade yang berstatus Putri Ayu Sumatera Barat tahun 1988 mewakili Sumbar ke ajang Putri Ayu Indonesia di Jakarta.Keduanya dipertemukan Tuhan dengan cara yang unik. Usai ajang, Ade yang menjadi juara tiga, berjalan-jalan dengan finalis perwakilan Lampung dan Jawa Timur. Sialnya, mereka malah tersesat dan minta ditunjuki jalan pada Polantas. Tahu yang tersesat orang Sumbar, petugas lantas itu lalu diperkenalkan dengan Fakhrizal. Harapannya, agar Fakhrizal menjadi penunjuk jalan. Rupanya, perkenalan itu menjadi awal kebersamaan keduanya. Mereka malah saling bertukar alamat. “Sama-sama orang Minang, tapi bertemunya di Jakarta,” ungkap Fakhrizal.Setelah berkomunikasi selama enam bulan, dan tiga kali bertemu, akhirnya Fakhrizal memberanikan diri untuk melamar Ade. Dia merasa yakin, Ade yang saat itu berstatus sebagai pegawai bank mampu menjadi pendampingnya seumur hidup. Lamaran Fakhrizal diterima, keduanya melangsungkan pernikahan. Pilihan Fakhrizal tak salah, Ade Fakhrizal merupakan pilihan yang tepat. Keduanya seirama menempuh pasang surut kehidupan.
Kala menikah, Fakhrizal sedang bertugas di Polsek Pasar Minggu, Jakarta, dengan pangkat Letnan Dua (Letda), atau sekarang setara dengan Iptu. Gajinya Rp93 ribu, sangat jauh dari kata cukup untuk membiayai hidup. Tinggalnya juga di asrama. “Di tahun-tahun pertama menikah, kami begitu diuji. Gaji pas-pasan, kadang kurang. Tinggalnya di asrama. Kadang, gaji hanya cukup untuk setengah bulan. Untuk menyambung hidup, seringkali hanya makan mie. Tapi hebatnya, istri tak pernah mengeluh. Kalau saya sudah terbiasa susah,” kenang Fakhrizal.Fakhrizal dikarunai empat anak. Si sulung, Alfano Ramadhan mengikuti jejaknya sebagai polisi, tiga lainnya perempuan. Julia Nofadini dan Julia Nofadina kembar, sedangkan si bungsu diberi nama Syarfina. Kepada anak-anaknya, Fakhrizal mengajarkan kesederhanaan. Dia ingin anaknya menjadi pribadi yang rendah hati, luhur dan tidak merasa tinggi hati, dengan segala karunia yang diterima.
Memimpin dengan HatiKarir Fakhrizal di kepolisian termasuk mentereng. Jalannya dimudahkan Tuhan. Sebelum menjabat Kapolda Sumbar, dia memimpin Polda Kalimantan Tengah. Selama menjadi pemimpin, Fakhrizal dikenal tak berjarak dengan bawahannya. Dia juga memimpin dengan hati, dan jauh dari gaya tangan besi. Dia menempatkan diri sebagai bapak, dan menjadi pelindung bagi jajaran. Komunikasinya terbuka, bahkan kepada anggota dengan pangkat terbawah sekalipun. “Pemimpin adalah muara segala masalah, dan hulu bahagia bagi orang-orang yang dipimpinnya. Saya tak ingin dikenal sebagai pemimpin yang bertangan besi, tapi diingat sebagai seorang bapak, seorang ayah, yang menaungi dan melindungi,” papar Fakhrizal.
Editor : Adrian Tuswandi, SH