Al-Qur'an pun menyajikan kisah-kisah sebagai gambaran nyata tentang kekuatan informasi.
Misalnya, ketika Nabi Yusuf menafsirkan mimpi raja Mesir, ia menggunakan informasi itu untuk menyelamatkan bangsa dari bencana kelaparan.
Namun di sisi lain, tuduhan palsu terhadap dirinya menunjukkan bagaimana informasi yang salah dapat mencemarkan nama baik seseorang.
Dua sisi ini menegaskan bahwa informasi bisa menjadi kekuatan konstruktif atau destruktif tergantung pada kebenaran dan cara penyampaiannya.
Lebih luas, Al-Qur’an juga merupakan kitab yang memuat informasi ilahiah sebagai petunjuk hidup.
Ia disebut sebagai hudan (petunjuk), furqan (pembeda antara yang benar dan salah), dan nur (cahaya).Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi sumber utama dalam menentukan nilai-nilai informasi yang benar dan bermanfaat.
Seorang Muslim idealnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menyaring dan menyampaikan informasi, sehingga tidak terjebak dalam pusaran informasi yang menyesatkan.
Dalam dunia modern yang dipenuhi arus informasi tak terbendung, Al-Qur’an hadir sebagai kompas moral yang tak lekang oleh zaman.
Prinsip-prinsip kejujuran, tanggung jawab, verifikasi, dan etika komunikasi yang terkandung dalam Al-Qur’an merupakan fondasi kokoh bagi etika informasi digital masa kini.
