Tugu Coklat Padang Pariaman, Lubuk Pandan

oleh -128 views

Oleh: Bagindo Yohanes Wempi

PADANG Bukik, Nagari Lubuk Pandan ada berdiri tugu dengan simbol keluarga sejahtera, membawa hasil panen buah kakao/coklat yang dibuat oleh almarhum Drs H. Muslim Kasim Dt Sinaro Basa, Bupati Padang Pariaman Priode 2001-2010. Tugu ini disebut juga dengan tugu kakao atau coklat oleh masyarakat Padang Pariaman.

Tugu tersebut memiliki sejarah, nilai serta simbol pembangunan hebat yang tidak banyak orang Piaman tahu. Sejarah tugu ini didirikan paska dideklarasikannya Padang Pariaman bebas kemiskinan berbasis Nagari yang diresmikan langsung waktu itu oleh Presiden RI, SBY. Nilai dan simbol pembangunannya ada ditugu ini juga ada. Sedangkan simbol pembangunannya adalah disini merupakan pusat pintu masuk ke Kota Mandiri, Ibukota Kabupaten Padang Pariaman di Parit Malintang (seperti bundarah Hotel Indonesia di DKI).

Penjelasanya adalah di tugu coklat ini akan ada bundaran persimpangan jalan yang akan memasuki kawasan Ibu Kota Kabupaten (IKK) Parit Malintang. Karena ditugu itu akan bertemu jalan dari malalak ke Ibu Kota Parit Malintang yang hari ini belum tersambung dari jalur daerah Koto Mambang melalui Nagari Sungai Ibue, Nagari Sungai Asam, sampai ditugu coklat Nagari Lubuk Pandan ini.

Ditugu ini sudah ada jalur Padang ke Bukittinggi via Sicincin, selanjutnya ada jalur dari tugu coklat ke kawasan perkantoran Pemda Padang Pariaman melalui jalan lingkar yang pembangunan semenjak tahun 2011 sampai sekarang tidak pernah selesai-selesai urusan pembebasan tanahnya. Jalur jalan dituggu ini sesuai dengan perencanan awal memang jalur srategis yang merupakan pusat simbol kota atau kedepan akan lahir Kota Mandiri Parit Malintang.

Sekarang tugu tersebut sudah mulai ditinggalkan oleh penguasa Padang Pariaman, Ali Mukhni-Suatri Bur. Pembangunan kawasan ala HI di DKI tersebut tidak lagi ada gaungnya, tidak ada lagi anggarannya, tidak terdengar lagi kesibukan orang hebat di Pemda Padang Pariaman akan melanjutkan cita-cita untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai gerbang baru Kota Mandiri yang akan mempercantik Ibu Kota Kabupaten Padang Pariaman.

Dimedsos, Penulis dikagetkan ternyata tugu yang sudah tahunan ditinggalkan tampa ada perencanaan untuk melanjutkan pembangunan disini. Pada hari jumaat kemarin Bapak Camat 2xII Enam Lingkung, jajaranya, dan perangkat Nagari Lubuk Pandan bergotong royong membersihkan tugu coklat tersebut, dan kembali mempercantiknya. Ucapan alhamdulillah dan terima kasih buat mereka yang masih menjaga suatu gagasan hebat untuk masa yang akan datang.

Sedikit bercerita kehabatan daerah ini. Bisa diungkap kembali rencana awal pembangunan IKK yang ada di Nagari Parit Malintang dan sekitarnya sacara landasan hukum sudah dituangkan dalam aturan. Semua bisa dijadikan rujukan pemerintah daerah untuk pengembangan. Misal, sudah diatur dalam PP No. 79 Tahun 2008, dan sudah dijabarkan juga oleh Peraturan Daerah tentang 9 Kawasan Strategis Padang Pariaman yang isi menjelaskan bahwa pembangunan IKK berkonsep melahirkan kota mandiri.

Sangat pantas, harapan masyarakat Padang Pariaman besar terhadap IKK tersebut. Seperti, masyarakat berharap agar IKK itu ke depan menjadi pusat pemerintahan nan rancak, menjadi pusat bisnis dan pedagangan, menjadi pusat pelayanan publik terbesar di Sumatra Barat. Menjadi pusat bermukim/menginap ramah lingkungan dan disenangi, dan bisa juga jangka panjang menjadi ibu kota provinsi Sumatra Barat dari Kota Padang.

Begitu juga dengan masyarakat setempat. Masyarakat 2×11 Enam Lingkung tidak akan merasakan efek pembangunan perkantoran secara ekonomi jika pembangunan hanya berada di radius koordinat luas 100 hektare sekarang. Barang tentu masyarakat ingin, pembangunan kantor SKPD menyebar di kawasan Nagari Parit Malintang, merata dibangun di setiap korong.

Parit Malintang merupakan pusat pemerintah yang 100 tahun ke depan harus menjadi kebanggaan daerah Padang Pariaman. Secara teori akademis, peluang pendirian suatu pusat ibu kota merupakan kesempatan terbesar untuk melakukan penataan indahnya suatu daerah jangka panjang, dan kesempatan juga membangun peradaban baru Padang Pariaman.

Sekarang pembangunan berhenti, penguasa sekarang tidak tertarik melanjutkan kawasan ini. Maka usulan penulis agar semua pihak mendesak regulasi pembangunan IKK dikembalikan pada konsep penataan suatu ibu kota yang menjadi kota mandiri modern, atau Kota Mandiri Parit Malintang nan rancak. Suatu kota yang tidak hanya membangun pusat perkantoran pemerintah, tapi juga harus terbangun pusat bisnis/perdagangan, pusat pertumbuhan di sektor publik, pusat wisata alam kota dan pemukiman ideal kota ramah lingkungan.

Semua harapan tersebut bisa dijalankan dengan baik, Pemda Padang Pariaman harus memiliki waktu, ruang dan biaya, untuk bisa mewujudkannya. Jika ada kemauan dan tekad, semua bisa direalisasikan. Imbauan kepada seluruh pemangku kepentingan di Padang Pariaman, mari mencoba memberikan kontribusi dalam bentuk investasi nyata agar terciptanya Kota Mandiri Parit Malintang nan rancak. menuju pusat peradaban baru Padang Pariaman yang bisa dimanfaatkan anak cucu nantinya.

Tugu coklat, bukan sekedar tugu, tapi simbol disitu akan lahir gagasan masa depan menuju pusat peradaban baru Padang Pariaman yang bisa dimanfaatkan anak cucu nantinya. Semoga awal bebersihan tugu tersebut lahir pemimpin Padang Pariaman yang akan melanjutkan pembangunan dikawasani ini yang sudah dimulai dari kehebatan cita-cita pendiri tugu coklat lubuk pandan. (analisa/tayang juga di canangnews).