Siapa mereka? PSSI Kabupaten/kota dan pemerintah daerah. Bicara soal pemerintah daerah, tentulah genggaman kekuasaan.Dari sanalah, kemudian tersaring bibit-bibit unggul pesepakbola daerah yang bisa saja di dorong ke bond sepakbola daerah itu hingga kemudian di adu ke tingkat Sumbar. Di sinilah, proses selanjutnya dilakukan. Hanya saja, soal teknis tentulah pemangku kepentingan sepakbola Sumbar bisa menyarikannya menjadi sebuah formulasi sepakbola Sumbar ke depan, atau setidaknya menjadi blue print sepakbola Sumbar.
Dan di sinilah saatnya, seorang gubernur yang sebenarnya penikmat bola itu, ikut berperan. Kenapa penikmat bola? Karena di tahun 2013 silam, seorang Irwan Prayitno bahkan bela-belain minta izin ke Mendagri berkunjung ke India hanya untuk mendukung Semen Padang FC di ajang AFC Cup 2013.Lalu, kemana mereka setelah menjadi alumni Minangkabau Cup? Disinilah kesepakatan itu harus coba dicapai. Walau terkesan konyol dan mungkin sangat sulit dicapai, para alumni Minangkabau Cup dapat didorong ke klub-klub lokal sebagai muara dari pembinaan. Harus ada mestinya yang didorong dari sekian banyak klub sepakbola di Sumbar yang kini masih berkutat di kubangan kompetisi nasional. Harus ada kesepakatan, tim mana yang mestinya didorong untuk keluar lebih dahulu dari kubangan tersebut.
Tim mana? Jika menilik kepada sejarah nama branding, tak salah kiranya kita menumpangkannya ke PSP Padang. Sejarah tak bisa memungkiri PSP punya nama besar dibanding tim lain, tanpa bermaksud mengecilkan tim lain yang ada di pusaran sepakbola Sumbar. Tapi, lagi-lagi formulasi diperlukan sebagai sebuah proses menuju langkah itu agar nanti bisa melahirkan kesepakatan dengan kebesaran jiwa para pemangku kepentingan sepakbola itu sendiri. Itu semua, demi sepakbola Sumbar dan orang-orang yang ada di lingkungan PSP Padang-pun tak perlu jumawa karena ada keterwakilan Sumbar di dalam tubuh Pandeka Minang, Pandeka urang minang, tim urang awak.Apakah itu mungkin? Jawabannya ada pada para pemangku kepentingan sepakbola Sumbar itu sendiri dan waktu sudah membuktikan. Ketika semua pihak, semua komponen sepakbola Sumbar berjalan di rel nya sendiri-sendiri, yang ada hasilnya cuma mengantarkan tim sepakbola Sumbar di level bawah Indonesia. Cuma segitu.Saat inilah genggaman kekuasaan itu diperlukan. PSSI Sumbar dan gubernur mainkan lah kekuasaan itu. Menyatukan seluruh komponen tanpa ada yang setelah itu merasa dirinya sebagai dewa sepakbola Sumbar. Kita semua adalah dewa sepakbola itu.
Kekuatan yang ada sebenarnya sebagai tawaran untuk melepaskan ketergantungan sepakbola Sumbar ke PT Semen Padang. Perusahaan plat merah yang concern dengan sepakbola sejak awal Dekade 1980-an lalu itu kini juga sedang megap-megap sebenarnya. Menyelamatkan diri mereka saja kini sudah pusing, apalagi ikut membantu sepakbola Sumbar. Sumbangsih PT Semen Padang untuk kompetisi lokal sebenarnya tak perlu dipertanyakan lagi. Selain menggendong tim pro sekelas Semen Padang FC, mereka juga sempat ada menggelar iven tahunan Semen Padang Cup U-23 beberapa tahun lalu. Quo Vadis Sepakbola Sumbar.(*kutip dari harian haluan) Editor : Adrian Tuswandi, SH