Dalam hal ini, keberhasilan Dony menjadi contoh konkret bagaimana teknokrat Indonesia dapat menjadi motor perubahan yang relevan, baik dalam skala nasional maupun internasional.
Akan tetapi, keberhasilan besar ini juga mengandung tantangan berat. Mengelola dana triliunan rupiah bukan hanya perkara kemampuan manajerial, tetapi juga soal menjaga integritas dalam dinamika politik nasional yang sering penuh tarik-menarik kepentingan. Posisi Dony sebagai COO menjadikannya berada di garis depan dalam memastikan bahwa strategi investasi tetap selaras dengan kepentingan bangsa, bukan sekadar kepentingan sesaat. Justru di sinilah nilai prestasinya: ia berani mengedepankan prinsip tata kelola modern, meskipun harus berhadapan dengan kultur lama yang sarat dengan konflik kepentingan.
Dalam lanskap yang lebih luas, keberhasilan Dony Oskaria di Danantara membawa pesan penting bagi Indonesia: bahwa negara ini mampu membuktikan diri sebagai pengelola aset yang kredibel di mata dunia. Jika dulu BUMN sering dipandang sebagai “lubang hitam” anggaran negara, kini Danantara menjadi simbol baru bahwa dengan kepemimpinan yang bersih, berani, dan visioner, lembaga negara bisa berubah menjadi instrumen kedaulatan ekonomi. Dony bukan hanya COO, melainkan juga arsitek transformasi yang menorehkan babak baru dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Sebuah era di mana BUMN tidak lagi menjadi beban, tetapi justru motor pertumbuhan, inovasi, dan kesejahteraan bangsa. (***)
Editor : MS

