Denny JA Terima Penghargaan Sastra BRICS, Sastra Dapat Menjembatani Perbedaan

Sastrawan Indonesia Denny JA menerima penghargaan Sastra BRICS dan bertemu Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov di Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Foto: Ist)
Sastrawan Indonesia Denny JA menerima penghargaan Sastra BRICS dan bertemu Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov di Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Foto: Ist)

Sejarah menunjukkan bahwa penghargaan sastra tidak bertahan hanya karena prestise, melainkan karena adanya dana abadi yang stabil.

Seperti Nobel Prize yang berdiri sejak 1901. Yayasan Nobel mengelola dana warisan Alfred Nobel dan menginvestasikannya, sehingga hadiah diberikan dari hasil pengelolaan investasi tersebut.

Atau Booker Prize, berdiri sejak 1969. Awalnya disponsori oleh Booker McConnell, dan kini didukung oleh yayasan serta sponsor korporasi yang kuat.

Pertanyaannya: siapa yang dapat menjadi donatur bagi BRICS Award untuk Sastra?

Bisa saja perusahaan-perusahaan energi, bank pembangunan, perusahaan teknologi, sovereign wealth funds, atau yayasan filantropi yang berkomitmen pada pendidikan dan pertukaran budaya.

Karena sastra membutuhkan ketahanan, bukan hanya perayaan.

Semoga BRICS Award untuk Sastra terus bertumbuh.

Semoga ia menyalakan keberanian dalam diri para penulis.

Dan semoga ia mengingatkan kita semua bahwa ketika ekonomi naik dan turun, kisah manusia akan terus berjalan.

Dubes Rusia bertepuk tangan dengan pidatonya Denny. Ia juga setuju bahwa literasi Global South harus didorong untuk lebih berkembang lagi dengan kekuatan dana. "Negara-negara di Global South memiliki kekayaan sastra yang luar biasa, namun publikasinya masih didominasi oleh sastra Barat," katanya.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner - GorBanner Pernikahan
Bagikan

Berita Terkait
Terkini