Menurut sejarawan Amerika Audrey Kahin dan Barbbara Silars Harvey, serta sejarawan yang juga tokoh bangsa Indonesia bapak Ahmad Syafii Maarif, "PRRI adalah pemerintahan alternatif bukan Negara alternatif"
Jadi PRRI bukanlah gerakan separatis dan bukan gerakan untuk mengganti ideologi negara.
PRRI justru mengkhawatirkan ideologi negara berubah menjadi komunis!!!
Seorang wartawan senior yang juga merupakan Komisaris sebuah BUMN ,entah iseng entah serius pernah mengatakan dalam sebuah diskusi di Group WA terkenal di Sumatera Barat bernama TOP 100, bahwa PRRI lahir karena kekecewaan tentara di daerah karena kesatuannya dilikuidasi.
Saya entah karena mmg mengalami trauma langsung bereaksi dan membantah dengan keras pernyataan dari sang komisaris tersebut.
Saya katakan PRRI lahir bukan karena kekecewaan tentara, tapi karena kekecewaan seluruh lapisan masyarakat di daerah terhadap pemerintahan saat itu.Buktinya seluruh lapisan masyarakat ikut bergabung dengan PRRI baik rakyat jelata, pelajar, Mahasiswa maupun tokoh tokoh politik dan Sipil di tingkat Nasional seperti M.Natsir, Mr .Assat, Burhanudin Harahap, Syafruddin Prawira Negara dll
Setidaknya ada 3 orang mantan Perdana Mentri Indonesia dan dua orang Presiden dari Pemerintahan Darurat Indonesia bergabung dengan PRRI apakah tidak bisa membuktikan bahwa PRRI bukan lahir karena kekecewaan tentara.
Lebih jauh saya katakan kepada komisaris BUMN tersebut, bahwa PRRI lahir paling tidak disebabkan dua hal penting , yaitu ketidakpuasan yang meluas di daerah daerah atas ketidakmerataan pembangunan dan jalannya Pemerintahan Pusat yang condong kekiri kirain, karena terlalu memberi tempat kepada PKI dalam pemerintahan dan politik.
Kekhawatiran tokoh tokoh PRRI atas menguat dan membesaranya cengkraman PKI dalam politik dan pusat kekuasaan di Indonesia mgkin diabaikan dan tidak dihiraukan oleh pemerintah pusat terutama tokoh tokoh militer, sehingga berselang 7-8 tahun kemudian petinggi petinggi militer yg menjadi ujung tombak penumpasan dan pemadaman gerakan PRRI malah akhirnya harus membayar mahal dan menjadi korban keganasan PKI pada saat meletusnya gerakan 30S/PKI.
Editor : Editor

