Terimakasih Pak Prabowo , Akhirnya ada Putra Minangkabau Jadi Jendral bintang 4 di TNI

Bachtul. (Foto: Ist)
Bachtul. (Foto: Ist)

Saya sampaikan lagi, kalau PRRI/Permesta lahir karena ketidakpuasan tentara karena kesatuannya dilikuidasi.

Lalu kenapa bapak Kolonel Alex Kawilarang yang tidak terkena imbas akibat likuidasi kesatuan di daerah, malah sengaja pulang dari Amerika Serikat sebagai Atase Militer hanya untuk bergabung dengan Permesta. Beliau kan tidak terdampak Likuidasi kesatuan.

Begitu juga orang tua saya yang saat itu berpangkat Kapten jebolan dari pendidikan opsir Divisi Banteng KDMST di Bukittingi angkatan pertama, satu angkatan dengan Mayjen TNI (Purn) Durmawel Achmad,SH yang menjadi hakim ketua pada sidang Mahkamah Militer Luar Biasa, yang mengadili tokoh terkemuka PKI Dr.Soebandrio . Juga pulang kampung bergabung dengan PRRI padahal saat itu orang tua saya berdinas di Kodam Siliwangi, sehingga bisa dikatakan tidak terimbas karena adanya likuidasi kesatuan di daerah.

Dan orang tua saya tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa beliau bergabung dengan PRRI karena kekecewaan tentara karena likuidasi kesatuan kesatuan tentara di daerah.

Tapi beliau bergabung dengan PRRI karena mmg setuju dengan perjuangan PRRI ,yaitu pemerataan pembangunan dan Pembubaran PKI.

Tak pelak memang ketika orang tua saya minta dipulangkan ke kesatuan asalnya kepada atasan langsungnya bapak Mayor Soepardjo Rustam, atasan langsungnya merasa kaget dan setengah tidak percaya.

Dan akhirnya beliau dipulangkan ke kesatuannya dan setelah itu bergabung dengan PRRI.

Maaf pak Prabowo, saya jadi terlalu banyak cerita tentang PRRI, padahal niat hati saya menulis surat ini adalah untuk mengucapkan terimakasih atas penganugerahan kenaikan pangkat jadi bintang 4 kepada bapak Djamari Chaniago. Mungkin mmg masih ada sisa trauma pada diri saya sebagai putra "pemberontak". Karena belasan tahun setelah peristiwa PRRI dan saya sendiri lahir dan hidup setelah masa PRRI, tapi saya masih mendengar seorang tokoh PKI yang bepengaruh di kampung saya mencemooh dan mengejek orang tua saya dengan mengatakan dalam bahasa Minang, "Dulu Iyo Inyo kapten, tapi kini Inyo tingga Kapitiang lai"

(Dulu iya dia Kapten, tapi kini dia tinggal kepiting lagi).

Jadi saya menceritakan PRRI disini bukan untuk menghidupkan perjuangan PRRI lagi, karena untuk saat ini perjuangan tersebut tidak relevan lagi.

Editor : Editor
Banner JPS- Insanul KamilBanner HUT BUMN - JPSBanner Nindya - JPSBanner kopassus
Bagikan

Berita Terkait
Terkini