Dukungan elite sejauh ini terlihat solid. Koalisi pemerintah memahami bahwa keberhasilan MBG akan memperkuat stabilitas politik. Tetapi dinamika elite di Indonesia sering kali pragmatis. Dukungan akan tetap kuat selama program populer dan tidak menimbulkan beban politik. Jika terjadi tekanan fiskal atau kontroversi tata kelola, sebagian elite bisa melakukan repositioning secara halus.
Karena itu, MBG bukan hanya soal memberi makan. Ia adalah ujian kapasitas negara dalam mengelola anggaran besar secara bersih. Ia adalah ujian soliditas koalisi kekuasaan. Ia juga menjadi indikator apakah politik kesejahteraan dapat dijalankan tanpa terjebak dalam jebakan populisme.
Menuju 2029, keberhasilan atau kegagalan MBG akan menjadi salah satu narasi utama dalam kontestasi nasional. Jika berhasil, ia akan dikenang sebagai legacy sosial yang memperkuat legitimasi pemerintahan. Jika gagal, ia bisa berubah menjadi simbol pemborosan dan ketidakefisienan.
Dalam perspektif yang lebih luas, Indonesia membutuhkan kebijakan sosial yang kuat sekaligus berkelanjutan. Dukungan elite terhadap MBG harus diiringi komitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas. Tanpa itu, program sebesar apa pun akan rapuh oleh badai politik.
Akhirnya, publiklah yang menjadi penentu. Elite boleh mendukung, partai boleh mengklaim, lembaga boleh memberi legitimasi. Tetapi ukuran sesungguhnya ada pada efektivitas di lapangan: apakah anak-anak benar-benar menerima manfaat, apakah kualitas gizi meningkat, dan apakah masa depan generasi muda menjadi lebih baik.Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu positif, maka MBG akan melampaui sekadar program politik. Ia akan menjadi tonggak kebijakan sosial nasional. Namun jika sebaliknya, sejarah akan mencatatnya sebagai eksperimen mahal dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Dan di situlah pertaruhannya. (***)
Editor : Editor