Ia juga menilai kesalahan yang pernah terjadi seharusnya menjadi pelajaran agar tidak terulang kembali di masa depan.
“Saya berjuang setengah mati demi kepentingan bangsa, tapi dia yang menghancurkan negeri. Berbeda sangat,” ujarnya.
Selain kepada ketua adat, Djamari juga mengaku pernah menyampaikan kritik serupa kepada kalangan akademisi di Universitas Andalas.
Menurutnya, para dosen dan guru besar juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan praktik yang dianggap keliru terjadi di tengah masyarakat.
“Saya katakan semuanya. Jangan merasa tidak bersalah dengan kejadian kemarin itu. Kalian juga salah, kenapa kalian diam saja melihat itu,” kata Djamari.
Ia menekankan bahwa setiap elemen masyarakat harus memiliki kepedulian dalam menjaga nilai integritas.“Nah, saya ingin menggambarkan bahwa sekecil apa pun terlibat di masyarakat kita harus peduli,” pungkasnya.
Bagi Braditi Moulevey Rajo Mudo, kritik terhadap praktik adat tentu dapat disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap nilai-nilai Minangkabau.
Namun ia berharap penyampaiannya dilakukan secara proporsional dan tidak menyamaratakan masyarakat Minang secara keseluruhan. (***)
Editor : Editor