Membangun dari Pinggiran
Topik ketiga membawa diskusi pada persoalan yang lebih mendasar: paradigma pembangunan ekonomi.
Selama ini, pertumbuhan usaha cenderung terpusat di kota-kota besar. “Kue ekonomi” lebih banyak dinikmati di pusat, sementara daerah sering kali hanya menjadi penonton.
Koperasi Merah Putih hadir sebagai upaya membalik pola tersebut. Melalui koperasi di tingkat desa dan nagari, distribusi kebutuhan dasar—seperti sembako, LPG, hingga pupuk—diharapkan menjadi lebih merata dan terjangkau. Ini bukan sekadar program ekonomi, tetapi juga strategi pemerataan distribusi usaha dan pertumbuhan ekonomi.
Betul, tiga program ini belum sempurna dilapangan. MBG baru berjalan setahun dan memasuki tahun kedua. Masih terdapat berbagai kendala di lapangan. Namun, kekurangan tersebut lebih tepat dipandang sebagai proses mencari formula, bukan kegagalan.
Perbaikan, evaluasi, dan penyempurnaan adalah kewajiban untuk dilaksanakan. Di sinilah peran semua pihak dibutuhkan (memberi ruang -red) bagi para pemangku kepentingan untuk terus berbenah.
Melihat ke Luar, Jangan Lupa ke Dalam
Dialog antara mahasiswa dan Andre Rosiade menunjukkan satu hal penting: sensitivitas generasi muda terhadap isu nasional patut diapresiasi. Mereka kritis, peka, dan berani bersuara (sebuah harapan baru) bagi negeri.
Namun di balik itu, ada refleksi yang tak kalah penting: jangan sampai kita terlalu jauh melihat ke luar, tetapi lupa melihat ke dalam.Realitas di Sumatera Barat menyimpan persoalan yang tidak kecil, terutama di sektor ekonomi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi bukanlah gejala baru. Sinyalnya sudah muncul sejak lama.
Sejak sekitar 2010, tren pelemahan mulai terlihat. Pada 2018, pertumbuhan ekonomi Sumbar mulai tertinggal dari pertumbuhan nasional, dan kondisi itu berlanjut hingga kini.
Pasca pandemi, jurangnya semakin lebar. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,11 persen, sementara Sumatera Barat hanya 3,37 persen. Kian dalam deviasinya.
Editor : Editor
