Dari Krakatau Steel hingga Pertamina, Dony Oskaria Beberkan Alasan Besar Lahirnya Danantara

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan alasan pembentukan Danantara sebagai instrumen transformasi dan konsolidasi BUMN nasional dalam sebuah podcast yang tayang pada 10 Juni 2026. (Foto: Ist)
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan alasan pembentukan Danantara sebagai instrumen transformasi dan konsolidasi BUMN nasional dalam sebuah podcast yang tayang pada 10 Juni 2026. (Foto: Ist)

Jakarta, - Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkap alasan mendasar pembentukan Danantara sebagai instrumen transformasi besar-besaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menurut Dony, selama bertahun-tahun BUMN di Indonesia berjalan secara terpisah tanpa adanya keterhubungan yang kuat antarkorporasi. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan negara tumbuh menjadi konglomerasi yang bergerak ke berbagai sektor tanpa koordinasi yang efektif.

"Sebelum ada Danantara, seluruh BUMN sebetulnya tidak memiliki interkorelasi satu sama lain. Tidak ada hubungan korporasi antara BRI, Mandiri, Pertamina, dan perusahaan negara lainnya. Masing-masing berjalan sendiri dan melapor kepada pemiliknya, yaitu Menteri Keuangan," kata Dony di acara podcast @BukanKalengKalengID yang tayang pada (10/6/2026).

Ia menjelaskan, pola yang berjalan secara silo tersebut menimbulkan sejumlah persoalan serius. Salah satunya adalah munculnya ekspansi bisnis yang tidak selalu berkaitan dengan bisnis inti perusahaan.

Sebagai contoh, Pertamina yang memiliki bisnis utama di sektor minyak dan gas ternyata memiliki ratusan anak usaha yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari travel agent, hotel, rumah sakit hingga asuransi.

Hal serupa juga terjadi di sejumlah BUMN lain, termasuk Telkom yang memiliki berbagai anak perusahaan di luar bisnis telekomunikasi.

Menurut Dony, kondisi tersebut terjadi karena tidak adanya mekanisme yang mampu menyatukan arah pengelolaan BUMN secara nasional.

Akibatnya, ketika sebuah perusahaan mengalami kesulitan, perusahaan lain tidak memiliki mekanisme untuk memberikan dukungan.

Dony mencontohkan kondisi Krakatau Steel saat pertama kali ia kunjungi setelah menjabat Wakil Menteri BUMN.

Saat itu, perusahaan baja nasional tersebut berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Fasilitas produksi utama tidak beroperasi, jumlah karyawan menyusut drastis, dan utang perusahaan mencapai sekitar Rp28 triliun.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner JPS - BolaBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini